Chongqing: Kota 8D China yang Bikin Turis Nyasar dengan Sengaja
Pertunjukan cahaya menggunakan 11.787 drone mencetak Rekor Dunia Guinness baru di Chongqing pada 17 Juni 2025. He Penglei/China News Service/Getty Images
mahkota-news.com – Saat Joshua Guvi, kreator travel asal Kanada, mendarat di Chongqing November lalu, ia khawatir kota yang ia lihat di media sosial tidak akan sekeren aslinya.
Chongqing metropolis pegunungan di barat daya China yang orang juluki “kota 8D” langsung mematahkan keraguan itu.
Kota ini memang tidak punya pilihan selain tumbuh ke atas. Dengan wilayah seluas Austria jika menghitung daerah ruralnya, geografi terkunci membuat Chongqing menumpuk fungsi kota secara vertikal, sampai satu gedung bahkan punya kereta yang melintas di tengahnya.
Bagi turis, dan bahkan warga lokal, tersesat di labirin serpentine Chongqing justru menjadi bagian dari keseruannya.
“It actually shot a lot over my expectations,” kata Guvi. Ia merangkum momen itu di videonya: “Chongqing feels like peering into the future. The neon soaked and alive with motion. This city has its own pulse.”
Baca Juga: Tunggakan AS Jadi Pemicu Utama Potensi Kolaps Agustus 2026
Dari kota yang terlupakan jadi magnet
Guvi memulai perjalanannya dari Shanghai, tapi cepat mencari sesuatu yang lebih otentik.
“I had heard some people talk about it (Chongqing) in Shanghai… Shanghai is an amazing city, but I was curious to see more of the actual China, versus kind of the Shanghai where you can still get by on English.”
Ia tidak sendirian. Turis muda kini melewati Beijing dan Xi’an demi Chongqing, dan pariwisata di sana melesat sejak China buka kembali pasca-pandemi.
Media sosial menjadi mesin utama: satu unggahan Instagram yang memperlihatkan gedung di mana “you think you’re on the ground floor, but you’re actually on the 12th” sudah mengumpulkan lebih dari 17 juta tayangan.
Data pemerintah mencatat Chongqing menyambut sekitar 1,3 juta turis inbound pada 2024, naik 184% year-on-year.
Pada dua bulan pertama 2025, jumlah warga asing yang masuk lewat pelabuhan kota naik 60% year-on-year.
Li Tian, manajer agen travel lokal, melihat dampak langsung: kota viral ini menghasilkan “a 20 to 30% increase in foreign visitors.”
Ia menambahkan: “We host over 20,000 travelers annually, and international tourists now make up about 10%. The outlook for inbound tourism is very promising.”
Agensinya kini menambah tur berbahasa Inggris, Spanyol, Thai, Jepang, dan Korea, dengan rata-rata menginap lima hari.
Mayoritas pendatang masih datang dari Asia Tenggara, Jepang, dan Korea Selatan berkat kedekatan geografis, tapi Eropa dan Australia ikut naik. Yang paling mengejutkan: turis Amerika.
“At the moment, the US is the number one country in terms of our client base, making up around 20% — that’s several hundred people already,” kata Chen Ming, pendiri perusahaan tur privat yang ia buka tahun lalu.
Chen mengenang awalnya sepi: “In our first month, we only had a few orders. In the second, maybe a dozen. Now we receive several hundred bookings every month.” Puncak terjadi pada Desember dan April, mengikuti libur Natal dan spring break.
Baca Juga: Ketahanan Pangan di Indonesia: Strategi Menghadapi Ancaman Global
Mimpi cyberpunk yang nyata
Banyak orang kesulitan mendefinisikan arsitektur Chongqing, lalu menjulukinya cyberpunk.
“Chongqing’s architecture style is unique,” kata Matthew Blair, 34, warga Amerika yang pindah ke sana sejak 2009. “The concrete and mountain terrain, with lots of industrial design, make it seem like a futuristic movie set but at night, it lights up and elevates the city into a true cyberpunk dream.”
Pemandu lokal Wan Linxin, 27, baru saja memandu 20 mahasiswa Amerika. Ia mengeluarkan topi jerami Luffy yang lama terlupakan agar rombongan mudah mengikuti.
“When I found out they were college students, I pulled out my long-forgotten Luffy straw hat. Because it was a big group, I needed something for them to follow. When I held up the hat, they would call me ‘Luffy’ and trail behind.”
Wan membawa mereka menyusuri eskalator luar ruang di lereng bukit, jalan layang 20 lantai, dan gedung viral “Kui Xing” yang atapnya berfungsi sebagai plaza publik.
“They kept asking me questions. Why is the 8th floor of one building connected to the ground floor of another? Does the monorail passing through the building disturb the residents? Why are some windows covered in cages?”
Jawabannya bukan estetika, melainkan kebutuhan. Chongqing, yang orang sebut “Mountain City,” menampung lebih dari 32 juta penduduk di pertemuan Sungai Jialing dan Yangtze.
Kota ini membentang di ngarai dan lembah dengan beda elevasi ratusan meter, sehingga perencana kota tidak bisa memakai tata kota datar tradisional.
Sebagai gantinya, Chongqing menumpuk fungsi menurut ketinggian transportasi, hunian, komersial, taman langit, dan plaza pejalan kaki menyatu dengan kontur tanah.
Hasilnya, satu high-rise bisa memiliki pintu masuk di lantai 1, 12, atau bahkan 20, menciptakan apa yang warga sebut “8D Space.” Wan membawa mahasiswa itu ke Stasiun Monorel Liziba, contoh paling ikonik di mana monorel melintas menembus gedung hunian yang menempel di lereng bukit.
“That’s when I realized the most valuable reward of being a guide. It’s getting to fall in love with your hometown all over again through the eyes of a traveler.”
Selain visual, makanan membuat Blair bertahan 15 tahun.
“Massive amounts of street food, late night BBQ, and 2 a.m. hotpot restaurants also make CQ stand out and frankly delicious. The locals are resilient and as spicy as their food. They are generous, loud and alive and they make you wanna be a part of the culture.”
Baca Juga: Prabowo dan Macron Sepaham Soal Urgensi Stabilitas Timur Tengah
Ekonomi yang setinggi atapnya
Chongqing bukan sekadar tontonan. Sebagai salah satu dari empat munisipalitas setingkat provinsi, kota ini menempati ekonomi terbesar kelima China selama lima tahun, dan tahun lalu menyalip Guangzhou menjadi nomor empat nasional, di belakang Shanghai, Beijing, dan Shenzhen.
Pemerintah pusat lama memandang Chongqing sebagai benteng strategis kampanye “Go West”. Selama Perang Dunia II kota ini berfungsi sebagai ibu kota sementara berkat pertahanan alam pegunungannya.
Kini, sisa situs militer dan kedutaan asing berdampingan dengan restoran hotpot di dalam bunker bawah tanah.
Pemerintah kota menggenjot infrastruktur. Juni ini Chongqing meresmikan stasiun kereta cepat baru seluas 1,22 juta meter persegi kira-kira 170 lapangan sepak bola yang mungkin menjadi stasiun kereta cepat terbesar di dunia yang selesai dalam satu tahap.
Pemandangan malamnya juga bukan kebetulan. Warga asli Zhao Wenjing, 41, mengingat proses panjang itu.
“The development of the night view in Chongqing started from when I was born about 30 years ago. The nightscape development probably really picked up in recent years around 2019 when Chongqing started promoting tourism seriously, mainly about installing lighting factories, LED lights on buildings, and so on.”
Pemerintah menerapkan rencana pencahayaan komprehensif tahun lalu, menambah titik observasi malam dari atas dan bawah, serta menggelar drone show rutin, pertunjukan cahaya, dan kembang api.
Saat musim ramai, warga bahkan menerima SMS dari pemerintah yang meminta mereka tetap di rumah agar memberi ruang bagi turis.
“I truly believe more and more international travelers will come. After all, Chongqing’s vibe is something that can’t be replaced anywhere else in the world,” kata Zhao.
Gelombang bebas visa membantu. Sejak Desember 2023 China memberi akses bebas visa ke warga Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Spanyol, dan Malaysia, dan per Juni 2025 sudah memperluas ke 47 negara secara unilateral, dengan total 54 negara mendapat kemudahan. Data imigrasi Chongqing menunjukkan kunjungan lewat bebas visa naik 245% year-on-year pada dua bulan pertama 2025.
Guvi menutup kunjungannya dengan satu penyesalan manis.
“I wish we stayed longer,” ujarnya sentimen yang kini menggema di feed TikTok dan Instagram di seluruh dunia.
Baca Juga: Prabowo Temui Macron: Ini Kunjungan Ketiga ke Perancis Sepanjang 2026
