Pertamina NRE Kembangkan E-Fuels untuk Dekarbonisasi Transportasi
Foto: Dok. Pertamina New & Renewable Energy
Jakarta, 4 Juni 2025 – Pertamina New & Renewable Energy (NRE) menjalin kerja sama dengan perusahaan asal Perancis, MGH Energy, untuk mengembangkan e-fuels, yaitu bahan bakar yang diproduksi dari sumber energi terbarukan.
Kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam mendukung target pemerintah Indonesia mencapai net zero emission (NZE) pada 2060 dan memperkuat ketahanan serta swasembada energi nasional.
CEO Pertamina NRE, John Anis, menyatakan bahwa peluang pengembangan e-fuels semakin besar seiring dengan agresifnya pemerintah dalam mengembangkan listrik berbasis energi terbarukan.
Jenis E-Fuels dan Potensi Indonesia
E-fuels yang dikembangkan meliputi e-metanol dan e-sustainable aviation fuel (eSAF). E-metanol diproduksi melalui kombinasi hidrogen hasil elektrolisis air menggunakan energi terbarukan dan karbon dioksida yang ditangkap, biasa digunakan di industri pelayaran dan kimia.
Sedangkan eSAF adalah bahan bakar sintetik untuk pesawat terbang yang dibuat melalui proses elektrolisis dengan sumber listrik dari tenaga surya, air, atau angin.
John Anis menegaskan, “Indonesia memiliki potensi sumber daya terbarukan yang sangat besar, dari energi surya hingga hidro, yang bisa menjadi fondasi bagi produksi e-fuels berskala industri”.
Dukungan Regulasi dan Tantangan Pengembangan
Pengembangan e-fuels mendapat dukungan dari regulasi terbaru tahun 2025 yang mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) dan pengurangan emisi karbon sesuai dengan Peraturan Presiden No. 98 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional.
Namun, keberhasilan komersialisasi e-fuels membutuhkan sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan investasi infrastruktur yang memadai.
VP Corporate Communication PT Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menambahkan, “Sinergi dengan berbagai mitra diperlukan untuk menjalankan visi energi baru terbarukan secara maksimal, sekaligus mendukung tercapainya target net zero emission Pemerintah yang bisa lebih cepat dengan keterlibatan berbagai stakeholder”.
“Kami mengapresiasi langkah Pertamina NRE yang secara proaktif mencari terobosan dalam energi baru terbarukan. Pengembangan energi bersih ini diharapkan memberi manfaat bagi kesejahteraan masyarakat, peningkatan ekonomi, dan target NZE pemerintah serta swasembada energi,” tambah Fadjar.
Analisis Dampak dan Prospek Ekonomi
Secara global, e-fuels dan eSAF menjadi bagian penting dalam transisi energi bersih di negara-negara maju seperti Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat yang telah mengoperasikan pabrik skala besar dan memberikan insentif fiskal.
Indonesia, dengan potensi sumber daya terbarukan melimpah, berpeluang menjadi pusat produksi e-fuels terbesar di ASEAN.
Hal ini tidak hanya mendukung kebutuhan domestik, tetapi juga membuka peluang ekspor bahan bakar bersih yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi hijau dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Kesimpulan
Inovasi e-fuels yang dikembangkan Pertamina NRE bersama MGH Energy adalah langkah nyata mendukung dekarbonisasi sektor transportasi dan target net zero emission 2060.
Dengan dukungan regulasi terbaru, investasi infrastruktur, dan kolaborasi multi-stakeholder, Indonesia dapat memperkuat ketahanan energi nasional dan berperan aktif dalam transisi energi global.
Pengembangan e-fuels juga diharapkan memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang luas, termasuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penciptaan lapangan kerja hijau.
