28 Mei 2026

Jingle “MBG Mas Bahlil Ganteng” Viral, Partisipasi Gen Z di Ruang Digital

Jingle “MBG Mas Bahlil Ganteng” Viral, Partisipasi Gen Z di Ruang Digital

Foto: Ilustrasi AI

Jakarta, mahkota-news.com – Di tengah rendahnya kepercayaan Generasi Z terhadap politik formal, budaya meme dan humor politik justru tumbuh jadi ruang komunikasi baru yang cair.

Salah satu yang terbaru adalah viralnya jingle “MBG Mas Bahlil Ganteng”, yang dikaitkan dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sekaligus Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa komunikasi politik kini tidak lagi terbatas pada pidato, manifesto, atau forum resmi.

Simbol politik juga beredar lewat sound TikTok, potongan video, hingga komentar jenaka di media sosial.

Publik tidak lagi sekadar penonton, tetapi ikut memproduksi narasi politik.

Baca Juga: Kuba Perkuat Arsenal UAV dari Rusia-Iran, AS Waspadai Ancaman Baru di Karibia

Dari Top-Down ke Partisipatif Digital

Pergeseran ini menandai perubahan komunikasi politik dari model satu arah ke budaya partisipatif yang horizontal.

Meme politik jadi salah satu wujudnya. Mengacu pada konsep participatory culture Henry Jenkins (2006), publik digital saat ini aktif menciptakan dan menyebarkan makna, bukan hanya menerima pesan.

Dalam konteks itu, jingle “MBG Mas Bahlil Ganteng” bukan sekadar lelucon internet.

Lagu dan meme turunannya menjadi bentuk partisipasi politik yang ringan tapi efektif membentuk kedekatan, citra, dan persepsi terhadap tokoh.

Audiens tidak lagi pasif seperti asumsi teori Jarum Hipodermik dalam komunikasi massa klasik.

Masyarakat digital kini berperan sebagai prosumer — produsen sekaligus konsumen informasi.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan Alvin Toffler dalam The Third Wave (1980).

Kemampuan publik untuk membuat, memodifikasi, dan mendistribusikan konten secara kolektif membuat meme politik naik level: dari hiburan menjadi ekspresi publik yang relevan.

Baca Juga: Tokoh Nasional dan Menteri yang Pernah Berurusan dengan Hukum Selain Nadiem Makarim

Gen Z Konstruksi Citra Lewat Remix dan AI

Jingle MBG menunjukkan bagaimana Gen Z mengonstruksi citra politik lewat partisipasi kolektif.

Potongan lagu, video editan wajah berbasis AI, hingga komentar lucu di TikTok, Instagram, dan X ikut membentuk makna terhadap sosok Bahlil.

Citra politik tidak lagi sepenuhnya dikendalikan institusi formal. Netizen justru dominan membangun narasinya.

Jika dulu televisi dan konsultan politik jadi produsen utama citra, kini interaksi horizontal antar pengguna media sosial yang membentuknya. Politik menjadi lebih decentralized.

Gen Z mengonsumsi politik dengan cara berbeda: visual, humor, ironi, dan budaya remix lebih dekat dengan mereka ketimbang gaya formal.

Ini sejalan dengan pandangan Manuel Castells (1996) bahwa dalam network society, kekuasaan bekerja lewat jaringan komunikasi.

Viralitas punya kekuatan simbolik besar karena mampu menciptakan atensi publik secara cepat dan masif.

Baca Juga: BPOM Tarik Produk Berbahaya, Berikut Daftarnya

Algoritma dan Ekonomi Perhatian

Viralnya meme MBG tidak lepas dari logika algoritma. Konten dengan interaksi tinggi didorong lebih luas.

Semakin banyak dibagikan, dikomentari, dan direproduksi, semakin besar jangkauan simboliknya. Politik pun bergerak mengikuti ekonomi perhatian digital.

Menariknya, respons Bahlil terhadap meme dirinya justru memperkuat partisipasi publik.

Ia terlihat santai menerima budaya meme tersebut. Sikap ini dinilai membangun kedekatan emosional dan mencairkan batas antara elite dan masyarakat digital.

Dalam komunikasi politik modern, kemampuan masuk ke ruang budaya digital jadi nilai tambah untuk menjangkau audiens muda.

Baca Juga: Arzeti Bilbina Imbau Masyarakat Waspada Hantavirus Tanpa Panik Berlebihan

Risiko Simplifikasi Politik

Meski membuka ruang partisipasi, politik berbasis viral juga membawa kritik. Kompleksitas kebijakan publik berisiko tenggelam oleh humor, persona, dan tren sesaat.

Politik bisa bergeser jadi performa yang mengejar engagement.

Demokrasi digital berada di posisi kontradiktif: memberi ruang partisipasi luas, tapi algoritma cenderung mengutamakan popularitas ketimbang kualitas narasi.

Fenomena jingle “MBG Mas Bahlil Ganteng” pada akhirnya menunjukkan bagaimana budaya partisipatif digital mengubah wajah komunikasi politik.

Meme bukan sekadar hiburan, melainkan medium publik untuk mengonstruksi citra dan kedekatan politik.

Politik hari ini tidak hanya diproduksi partai, negara, atau media arus utama, tetapi juga oleh pengguna media sosial, netizen, dan budaya viral itu sendiri.

Baca Juga: China Jadi Tuan Rumah, Putin akan Berkunjung 20 Mei 2026