28 Mei 2026

IFRS 2025: Standar Baru Laporan Keuangan Indonesia

IFRS 2025: Standar Baru Laporan Keuangan Indonesia

IFRS 2025: Standar Baru Laporan Keuangan Indonesia

JAKARTA – International Financial Reporting Standards (IFRS) menjadi tonggak penting dalam transparansi dan akuntabilitas laporan keuangan perusahaan di Indonesia.

Tahun 2025, penerapan IFRS semakin luas, mendorong perusahaan nasional untuk menyesuaikan sistem pelaporan keuangan mereka dengan standar global.

IFRS adalah seperangkat standar akuntansi internasional yang dikembangkan oleh International Accounting Standards Board (IASB).

Tujuannya adalah menyatukan laporan keuangan agar dapat dibandingkan secara global.

IFRS membantu perusahaan menyusun laporan keuangan yang transparan, relevan, dan dapat diterima di pasar internasional.

Penerapan IFRS di Indonesia 2025

Pada tahun 2025, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah mewajibkan seluruh perusahaan terbuka dan perusahaan yang berorientasi ekspor untuk menerapkan IFRS penuh.

Tercatat lebih dari 90% emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mengadopsi IFRS, naik dari 78% pada 2022.

Menurut data Kementerian Keuangan, 1.100 perusahaan publik dan 3.200 perusahaan non-publik telah mengimplementasikan IFRS per April 2025.

Sektor perbankan dan asuransi menjadi yang paling awal dan konsisten dalam adopsi IFRS, dengan 100% bank besar nasional sudah patuh standar ini.

Analisis dan Manfaat IFRS

Menurut OJK, “Penerapan IFRS meningkatkan kepercayaan investor asing karena laporan keuangan menjadi lebih akurat dan dapat dibandingkan lintas negara.”

IFRS memudahkan perusahaan Indonesia mengakses pendanaan global dan memperluas pasar ekspor.

IFRS mendorong efisiensi karena perusahaan harus memperbaiki sistem pencatatan dan pengendalian internal.

IFRS juga mempercepat proses merger dan akuisisi lintas negara karena laporan keuangan sudah seragam.

Namun, tantangan tetap ada biaya pelatihan dan konversi sistem akuntansi ke IFRS mencapai rata-rata Rp 2,5 miliar per perusahaan pada 2025, terutama untuk perusahaan menengah ke bawah.