Rupiah Jebol Rp17.705 per Dolar AS, Tekanan Impor dan Utang Membayangi
Foto Generated AI
Jakarta, mahkota-news.com – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026.
Mata uang Garuda melemah hingga menyentuh Rp17.705 per dolar AS, melanjutkan tren penurunan sejak awal pekan.
Berdasarkan data pasar, rupiah berada di Rp17.704 per dolar AS pada pukul 09.25 WIB, melemah 36 poin atau 0,20% dibanding posisi sebelumnya.
Sehari sebelumnya, Senin 18 Mei 2026, rupiah ditutup di Rp17.668 per dolar AS. Artinya, dalam dua hari terakhir pelemahan konsisten terjadi.
Pada pembukaan perdagangan, rupiah sempat melemah 0,11% ke Rp17.675, lalu berlanjut ke Rp17.690 pada 09.05 WIB dan menyentuh Rp17.704 pada 09.13 WIB.
Kurs jual dolar AS di BCA tercatat Rp17.705 pada 09.03 WIB, sangat dekat dengan kurs tengah pasar.
Dolar AS Menguat
Faktor utama penekan rupiah adalah penguatan dolar AS. Mata uang Paman Sam kembali menguat setelah Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran.
Meredanya risiko geopolitik membuat investor kembali masuk ke aset dolar yang dianggap safe haven.
Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama berada di 99,026. Dolar menguat 0,07% terhadap dolar Kanada dan 0,13% terhadap franc Swiss.
Namun dolar justru melemah 0,09% terhadap yen, 0,08% terhadap euro, 0,13% terhadap poundsterling, dan 0,35% terhadap dolar Australia.
Mayoritas Mata Uang Asia Ikut Melemah
Tekanan tak hanya dialami rupiah. Won Korea Selatan jadi yang terparah dengan USD/KRW melonjak 0,62% ke 1.502,56.
Meski begitu, yuan China menguat tipis 0,03%, ringgit Malaysia naik 0,01%, dan peso Filipina menguat 0,04%.
Pelemahan ke Rp17.700 per dolar AS berpotensi mengerek harga barang impor, terutama bahan baku industri dan elektronik, sehingga mendorong inflasi.
Beban utang luar negeri pemerintah dan swasta juga membengkak karena cicilan jadi lebih mahal dalam rupiah.
Di sisi lain, produk ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif karena harga relatif murah di pasar global.
Bank Indonesia Ditunggu Pasar
Pasar memperkirakan Bank Indonesia akan mengambil langkah lebih agresif, termasuk opsi menaikkan BI Rate untuk menjaga stabilitas.
BI memiliki cadangan devisa 146,2 miliar dolar AS sebagai bantalan. Analis menilai rupiah masih akan fluktuatif di rentang Rp17.600–Rp17.750 per dolar AS, tergantung kebijakan The Fed dan geopolitik.
Pemerintah dan DPR sebelumnya menyepakati asumsi nilai tukar 2026 di kisaran Rp16.500–Rp16.900 per dolar AS dalam ADEM.
DBS memproyeksikan rupiah tetap di kisaran Rp16.000–Rp16.900 pada 2026, namun dalam skenario terburuk bisa diperdagangkan di atas Rp17.000 akibat guncangan global.
