28 Mei 2026

Saat Robot Bersenjata AI Bisa Membuat Perang

Saat Robot Bersenjata AI Bisa Membuat Perang

Foto Ilustrasi Generated AI

Tiongkok, mahkota-news.com – Perlombaan robot tempur berbasis kecerdasan buatan makin nyata.

Para ahli mengingatkan, ketika mesin bisa memutuskan target dan menyerang, ambang politik untuk memulai perang jadi lebih rendah, korban dan kehancuran berpotensi melonjak.

Robot humanoid militer dirancang “mirip manusia”: punya tubuh, kepala, anggota badan, dan bisa membawa senapan atau peluncur granat.

Senjata juga bisa diintegrasikan langsung ke bodi. Dr. Michael Hochberg, fisikawan dan presiden firma konsultan Periplous, menyebut alasan bentuk humanoid sederhana: “Alasan Anda membangun robot humanoid adalah agar robot tersebut dapat menggunakan senjata yang sama dengan yang digunakan manusia.” Namun banyak sistem di lapangan justru membawa senjata lebih berat atau dipasang permanen.

Wajah robot bukan untuk ekspresi, tapi penuh sensor visual dan auditori. Hochberg menjelaskan bahwa “Robot-robot tersebut memproses sejumlah data yang mereka lihat dan dengar di sekitarnya untuk membuat keputusan yang biasanya dibuat oleh manusia, seperti mengidentifikasi musuh dan menembak.”

Robot tempur masuk kategori Lethal Autonomous Weapons Systems (LAWS). Di bawah kebijakan Departemen Pertahanan AS saat ini, sistem otomatis yang bisa menyerang target harus mendapat “explicit authorization from a human operator” sebelum melepaskan tembakan.

Pengembangan di Lapangan

Tiongkok pada November 2025 memperkenalkan robot tempur yang meniru gerakan manusia, dikendalikan jarak jauh dengan AI waktu-nyata—belum sepenuhnya otonom karena masih butuh operator.

April 2025, robot humanoid Tien Kung Ultra menang lomba setengah maraton di Beijing, tapi tetap perlu tiga orang untuk mengendalikannya.

Sementara itu, perusahaan AS Foundation mengirim dua robot humanoid Phantom MK-1 ke Ukraina pada Februari 2026.

Saat ini mereka “operating in support and reconnaissance roles rather than direct frontline combat”, fokus pada pengintaian di ruang sempit, suplai logistik, dan eksplorasi bunker.

Phantom MK-1 bisa memakai berbagai senjata ringan, dari pistol hingga M-16, dan dirancang agar “robot can use any type of weapon a human can.”

Ukraina sendiri makin agresif memakai robot darat. Presiden Volodymyr Zelenskyy menyebut “ground robots carried out over 22,000 missions in the last three months” dan “Lives were saved more than 22,000 times when a robot went into the most dangerous areas instead of a warrior”.

Bahkan untuk pertama kali, posisi musuh direbut “exclusively by unmanned platforms—ground systems and drones” tanpa infanteri.

Skala Industri: Tiongkok Unggul, AS Punya Data Tempur

Tiongkok memimpin dari sisi jumlah. IFR mencatat Tiongkok “recorded a world record of 2,027,000 industrial robots working in factories” dengan pemasangan tahunan 295.000 unit pada 2024, atau 54% dari total global.

Stok robot operasional Tiongkok “surpassing 2 million units in 2024 — more than half of the world’s total.” Sebagai perbandingan, AS memasang “34,200 robot installations during 2024”.

Meski unggul skala, AS punya pengalaman tempur puluhan tahun. Dua robot Phantom MK-1 sudah diuji di Ukraina untuk mengumpulkan data medan nyata guna menyempurnakan mobilitas dan perangkat lunak.

Risiko: Perang Jadi “Lebih Mudah” Dimulai

Dr. Kanaka Rajan, ahli neurosains komputasional Harvard, memperingatkan bahaya etis: “manusia dapat menggunakan teknologi otomatis bertenaga AI untuk menghindari tanggung jawab.” Karena “senjata AI menghilangkan biaya manusia dalam peperangan”, maka “secara politis, melancarkan perang menjadi lebih mudah, yang dapat menyebabkan lebih banyak korban dan kehancuran.”