Rahasia Genetik Kecoa yang Membuatnya Tahan Banting
Foto: Generated AI
Jakarta, mahkota-news.com – Kecoa Amerika (Periplaneta americana) dikenal sebagai salah satu serangga paling tahan banting dan sulit diberantas.
Penelitian terbaru tahun 2025 yang mempublikasikan hasil sekuensing genom kecoa ini mengungkap alasan di balik ketangguhan mereka, yaitu perluasan keluarga gen yang terkait dengan indera penciuman dan perasa, detoksifikasi, serta sistem kekebalan tubuh.
Genom Kecoa Amerika dan Adaptasi Hidup
Menurut studi yang diterbitkan pada 20 Maret 2025 di jurnal Nature Communications, kecoa Amerika memiliki genom terbesar kedua di antara serangga yang pernah disekuensing, hanya kalah dari belalang migrasi (Locusta migratoria).
Sekitar 60 persen genomnya terdiri dari segmen berulang. Peneliti dari South China Normal University, termasuk Sheng Li, menemukan bahwa kecoa ini memiliki 522 reseptor rasa (gustatory receptors), jumlah yang sangat besar dibandingkan serangga lain.
Hal ini serupa dengan kecoa Jerman (Blattella germanica) yang memiliki 545 reseptor rasa, menurut Coby Schal, entomolog dari North Carolina State University.
“Perlu sistem penciuman dan perasa yang sangat rumit agar mereka dapat menghindari makanan beracun,” ujar Schal yang dilansir Live Science.
Baca Juga: Mengenal Mikrobioma Serangga: Dunia Mikro di Balik Tubuh Mungil
Kemampuan Detoksifikasi dan Sistem Imun yang Kuat
Selain itu, kecoa Amerika juga memiliki kumpulan gen yang besar untuk memetabolisme zat berbahaya, termasuk bahan kimia dalam insektisida.
Adaptasi ini sudah ada jauh sebelum manusia mulai menggunakan pestisida. Karena kecoa hidup di lingkungan yang penuh bakteri penghasil racun dan memakan bahan tumbuhan yang mungkin beracun, mereka telah “dipersiapkan” secara genetik untuk menghadapi racun-racun tersebut.
Peneliti juga menemukan keluarga gen imun yang diperluas pada kecoa Amerika, yang diduga membantu mereka bertahan di lingkungan yang kotor dan sumber makanan yang fermentasi.
Pertumbuhan dan Perkembangan Kecoa
Gen-gen yang mengatur perkembangan, seperti hormon juvenil dan protein eksoskeleton, juga ditemukan dalam jumlah besar.
Hal ini masuk akal karena kecoa Amerika dapat tumbuh hingga 5,3 cm dan mengalami banyak kali pergantian kulit (molting) untuk mencapai ukuran tersebut.
Baca Juga: NASA Temukan Perubahan Vegetasi sebagai Indikator Letusan Gunung Api
Implikasi Penelitian untuk Pengendalian Hama
Pemahaman lebih dalam tentang genom kecoa ini diharapkan dapat membantu pengembangan metode pengendalian hama yang lebih efektif.
Schal mencontohkan kecoa Asia (Blattella asahinai), kerabat dekat kecoa Jerman yang hidup di luar ruangan dan jarang mengganggu manusia.
Perbandingan genom antara keduanya dapat mengungkap alasan perbedaan habitat dan perilaku.
“Meski sudah ada 5.000 spesies kecoa yang dideskripsikan, baru dua genom lengkap yang tersedia. Kita butuh lebih banyak lagi,” tambah Schal.
Kesimpulan
Genom kecoa Amerika mengungkapkan adaptasi genetik yang luar biasa dalam indera penciuman, detoksifikasi, dan sistem imun yang memungkinkan mereka bertahan di lingkungan ekstrem dan menghadapi pestisida.
Penelitian ini membuka peluang pengembangan strategi pengendalian hama yang lebih efektif dan ramah lingkungan.
Baca Juga: Mengenal Keistimewaan Bunga Teratai dari Kacamata Sains
