28 Mei 2026

Obama: Kesepakatan Nuklir Iran 2015 Sukses Tanpa Rudal, Keluarkan 97% Uranium

Obama: Kesepakatan Nuklir Iran 2015 Sukses Tanpa Rudal, Keluarkan 97% Uranium

Presiden Barack Obama Obama Memperingati Hari Martin Luther King Jr. di Washington DC pada 18 Januari 2016. Foto: /wallpapers.com.

Jakarta, mahkota-news.com – Dalam wawancara di The Late Show with Stephen Colbert yang direkam di Obama Presidential Center, Chicago, mantan Presiden AS Barack Obama membela kesepakatan nuklir Iran 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Ia menyebut kesepakatan itu berhasil mengekang program nuklir Teheran tanpa konflik militer.

“Kita berhasil melakukannya tanpa menembakkan rudal,” kata Obama. “Kita berhasil mengeluarkan 97 persen uranium yang diperkaya mereka.”

Obama menambahkan, tak ada yang membantah kesepakatan itu berhasil dan AS tak perlu membunuh banyak orang atau menutup Selat Hormuz.

Isi Kesepakatan 2015: Apa yang Sebenarnya Disepakati

JCPOA mewajibkan Iran mengurangi stok uranium yang diperkaya, membongkar kapasitas nuklir kunci, dan menerima inspeksi intrusif.

Angka resmi Gedung Putih saat itu: 98% stok uranium Iran yang diperkaya dikeluarkan, bukan 97%.

Obama menyebut kesepakatan itu didukung penilaian intelijen AS dan Israel pada masanya.

Ia menekankan ada mekanisme verifikasi dan penegakan untuk memastikan Iran tak bisa membuat senjata nuklir tanpa terdeteksi.

Obama mengakui pemerintahannya sempat mempertimbangkan aksi militer, tetapi memutuskan kekuatan militer adalah “opsi terakhir”.

Diplomasi, sanksi, dan verifikasi dipilih untuk menghindari perang, korban sipil, dan gangguan ke Selat Hormuz — jalur 20% minyak dunia.

Kritik & Dinamika Setelah 2015

Kritikus saat itu memperingatkan JCPOA hanya “menunda” ambisi nuklir Iran sambil memberi keringanan ekonomi miliaran dolar.

Pada 2018, Presiden Trump keluar dari JCPOA. Setelahnya, Iran secara bertahap meningkatkan pengayaan di luar batas JCPOA.

Per Mei 2026, situasi kembali memanas. PM Israel Benjamin Netanyahu menyebut perang dengan Iran “belum selesai” dan masih ada uranium yang diperkaya yang harus diambil.

AS dan Iran kini saling menolak proposal baru, dengan Trump menyebut tawaran Iran “TOTALLY UNACCEPTABLE!”.

Posisi Intelijen AS Terkini

Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard pada 2025 bersaksi bahwa komunitas intelijen tetap menilai Iran tidak sedang membuat senjata nuklir dan Pemimpin Tertinggi Iran belum mengizinkan restart program senjata. Artinya, ada beda antara “kapasitas pengayaan” dan “aktif membuat bom”.