28 Mei 2026

Mengenal Abdullah bin Abdul Muththalib: Ayahanda Rasulullah ﷺ

Mengenal Abdullah bin Abdul Muththalib: Ayahanda Rasulullah ﷺ

Mengenal Abdullah bin Abdul Muththalib: Ayahanda Rasulullah ﷺ

Jakarta, mahkota-news.com – Ibu Abdullah adalah Fāthimah binti ‘Amr bin ‘Ā’idz bin ‘Imrān bin Makhzūm bin Yaqazhah bin Murrah. Ia putra bungsu Abdul Muththalib.

Abdullah dikenal paling tampan, paling menjaga kehormatan, dan paling dicintai ayahnya di antara putra-putranya. Ia bergelar adz-dzabīh — “yang hampir disembelih”.

Ada riwayat seorang Arab Badui berkata kepada Rasulullah ﷺ: “Yā ibnadz-dzabīhain — Wahai anak dari dua orang yang hampir disembelih.”

Rasulullah ﷺ tersenyum dan tidak mengingkari. Riwayat ini disebut al-Hākim, namun adz-Dzahabi menilainya sanadnya sangat lemah.

Kisah Nazar: Hampir Disembelih sebagai Tebusan 100 Unta

Saat menggali sumur Zamzam, Abdul Muththalib bernazar: jika dikaruniai 10 anak laki-laki yang melindunginya, ia akan menyembelih salah satunya.

Bertahun kemudian, nazar itu disampaikan dan anak-anaknya taat. Nama-nama ditulis di anak panah undian di depan berhala Hubal.

Undian jatuh pada Abdullah. Saat Abdul Muththalib hendak menyembelihnya di Ka’bah, Quraisy — terutama paman dari ibu dan Abu Thālib — mencegahnya.

Mereka menyarankan bertanya kepada ‘arrāfah (peramal wanita) di Khaibar.

Peramal bertanya nilai diyat di Quraisy. Dijawab: 10 ekor unta. Ia menyarankan undi Abdullah vs 10 unta.

Jika Abdullah keluar, tambah 10 unta lagi, terus hingga undian jatuh pada unta.

Abdul Muththalib kembali ke Makkah dan mengundi. Nama Abdullah terus keluar hingga unta berjumlah 100 ekor, barulah unta yang keluar. 100 unta itu disembelih sebagai tebusan.

Sejak itu, diyat di Arab menjadi 100 unta, dari semula 10 unta. Ketentuan ini kemudian ditetapkan dalam Islam.

Pernikahan dengan Āminah binti Wahb

Abdul Muththalib membawa Abdullah menemui Wahb bin ‘Abdu Manāf, pemimpin Bani Zuhrah.

Di jalan, Abdullah berpapasan dengan Ummu Qitāl, saudari Waraqah bin Naufal. Ia menggoda Abdullah dengan imbalan besar, namun Abdullah menolak dan tetap bersama ayahnya.

Di rumah Wahb, Abdullah dinikahkan dengan Āminah binti Wahb bin ‘Abdu Manāf bin Zuhrah bin Kilāb — wanita terbaik nasab dan kedudukannya di Quraisy saat itu.

Usia Abdullah 18 tahun. Setelah akad, Abdullah tinggal 3 hari di rumah keluarga Āminah. Tak lama, Āminah mengandung.

Wafat di Madinah: Sebelum Rasulullah ﷺ Lahir

Abdullah dan Āminah menetap di Makkah. Saat Āminah hamil, Abdullah ditugaskan Abdul Muththalib membeli kurma ke Madinah/Yastrib.

Di sana ia sakit dan wafat. Riwayat lain: ia berdagang ke Syam, pulang sakit, singgah di Madinah, lalu wafat.

Ia dimakamkan di Dar an-Nābighah al-Ja’di di perkampungan Bani ‘Adī bin Najjār.

Mayoritas sejarawan menyebut Abdullah wafat 2 bulan setelah Āminah hamil, saat usia 25 tahun, sekitar 570-571 M / 53-52 SH. Versi lain: 2 bulan sebelum kelahiran Nabi ﷺ, atau 28 bulan, 7 bulan, bahkan 1 tahun setelah lahir. Namun pendapat terkuat: wafat sebelum Nabi ﷺ lahir.

Kabar duka sampai ke Makkah. Āminah meratapinya dengan syair duka. Harta warisan Abdullah: 5 ekor unta, beberapa kambing, dan budak Habasyah Barakah kunyah Ummu Aiman — yang kelak mengasuh Rasulullah ﷺ.

Hikmah Ketiadaan Ayah

Abdullah wafat 6 bulan sebelum kelahiran putranya menurut pendapat mayoritas.

Ketiadaan figur ayah menjadikan Rasulullah ﷺ tumbuh hanya bergantung kepada Allah.

Abdullah tercatat mulia karena nasab, kehormatan, dan perannya sebagai mata rantai kelahiran manusia paling mulia.