27 Juli 2026

Gong Nekara: Karya Seni Purba dari Peradaban Dong Son

Gong Nekara: Karya Seni Purba dari Peradaban Dong Son

Gong Nekara: Karya Seni Purba dari Peradaban Dong Son

Jakarta, 6 Juni 2025 – Gong Nekara merupakan salah satu karya seni rupa purba yang berasal dari kebudayaan Dong Son di delta Sungai Merah, Vietnam Utara, yang diperkirakan dibuat sekitar 600 tahun sebelum Masehi hingga abad ketiga Masehi.

Gong perunggu ini memiliki ukuran lingkaran 396 cm persegi, dengan tinggi 95 cm, dan dihiasi motif flora dan fauna yang kaya, seperti 16 ekor gajah, 54 burung, 11 pohon sirih, dan 18 ikan.

Di bagian atas gong terdapat empat arca kodok sepanjang 20 cm dan empat daun telinga sebagai pegangan.

Gong ini tidak hanya berfungsi sebagai alat musik, tetapi juga memiliki makna sakral dan simbolik dalam kebudayaan Nusantara, dibawa oleh tokoh legendaris Sawerigading dari Indo-China.

Media Sakral dan Warisan Hindu-Buddha

Seni rupa klasik di Nusantara berkembang sejak abad ke-4 Masehi, terutama sebagai media untuk kegiatan sakral pada masa Hindu-Buddha.

Karya-karya yang dihasilkan berupa candi, pura, patung, hiasan, dan pakaian adat yang sarat makna religius dan budaya.

Salah satu contoh monumental adalah Candi Prambanan di Yogyakarta, yang diakui UNESCO sebagai situs warisan dunia dan merupakan candi Hindu terbesar di Asia Tenggara.

Simbol Keagungan Dinasti Sanjaya

Dibangun sekitar tahun 850 Masehi oleh Dinasti Sanjaya, Candi Prambanan dibangun sebagai tandingan atas dominasi Dinasti Syailendra yang beragama Buddha.

Candi ini terdiri dari tiga bangunan utama yang mewakili Trimurti Hindu: Wisnu, Brahma, dan Siwa, dengan orientasi menghadap ke timur.

Setiap candi utama memiliki candi pendamping yang berfungsi sebagai wahana dewa, seperti Banteng Nandi untuk Siwa dan Garuda untuk Wisnu.

Kompleks ini juga mencakup 224 candi tambahan di halaman kedua, yang menunjukkan kemegahan dan kompleksitas arsitektur Hindu.

Arsitektur dan Filosofi Kosmologi Hindu

Arsitektur Prambanan mengikuti tradisi Vastu Shastra dengan desain mandala yang menggambarkan alam semesta menurut kosmologi Hindu.

Candi ini awalnya bernama Shivagrha dan didedikasikan untuk Dewa Siwa, dirancang menyerupai Gunung Meru, tempat tinggal para dewa.

Kompleks ini melambangkan lapisan-lapisan loka, memperlihatkan hubungan spiritual antara manusia dan alam semesta.

Kesimpulan

Karya seni rupa purba dan klasik Nusantara tidak hanya memiliki nilai estetika tinggi, tetapi juga sarat makna religius dan sosial.

Pelestarian warisan ini menjadi kunci untuk memperkuat identitas budaya nasional di tengah arus globalisasi dan modernisasi.

Edukasi dan dukungan hukum yang kuat diperlukan agar generasi mendatang dapat terus mengapresiasi dan melestarikan kekayaan budaya ini.