Arus Atlantik Kritis Melemah 51% pada 2100: Titik Kritis Makin Dekat, Kata Studi Baru
(Sumber gambar: Portmann et al, Science Advances (2026) CC-BY-NC)
Jakarta, mahkota-news.com – Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC) adalah sabuk konveyor laut yang membawa air hangat dari tropis ke utara dan air dingin ke selatan.
Sistem ini mengatur iklim Eropa, Afrika, dan Amerika, sekaligus menopang kehidupan laut.
Studi yang dipublikasikan 15 April 2026 di jurnal Science Advances memproyeksikan AMOC akan melambat 43%–59% pada 2100 — pelemahan 60% lebih kuat dibanding rata-rata model iklim sebelumnya.
Estimasi terbaiknya: melemah 51% ± 8% dari rata-rata 1850–1900. IPCC 2022 menyebut pelemahan 50% sebagai “substantial weakening”.
Para peneliti mengoreksi bias model lama dengan memasukkan 19 variabel observasi: suhu permukaan laut dan salinitas di 9 wilayah Samudra Atlantik.
Metode statistik yang dipakai — ridge-regularized linear regression — jarang dipakai di ilmu iklim, tapi menurunkan kesalahan prediksi 79% dibanding pendekatan standar.
“Makin Dekat ke Titik Kritis”
Pelemahan yang lebih besar berarti AMOC makin dekat ke tipping point — titik yang jika dilewati, keruntuhan jadi tak bisa dibalik selama ratusan hingga ribuan tahun.
Valentin Portmann, peneliti utama dari Inria Centre de recherche Bordeaux Sud-Ouest, menyatakan: “Kami menemukan AMOC akan menurun lebih dari perkiraan dibanding rata-rata semua model iklim. Ini berarti AMOC lebih dekat ke titik kritis.”
Stefan Rahmstorf dari Potsdam Institute for Climate Impact Research menyebut hasil ini “penting dan sangat mengkhawatirkan”.
Menurutnya, model pesimis yang menunjukkan pelemahan kuat pada 2100 justru yang paling realistis karena cocok dengan data observasi.
Ia khawatir titik kritis keruntuhan AMOC bisa dilewati “di pertengahan abad ini”.
Dampak jika AMOC Kolaps
Jika benar runtuh, dampaknya berlangsung ratusan–ribuan tahun:
- Eropa: Musim dingin ekstrem di Eropa utara bisa turun hampir 60°F, sementara Eropa selatan mengalami kekeringan parah.
- Amerika Utara: Kenaikan muka laut lebih cepat di pesisir timur laut AS.
- Global: Sabuk hujan tropis melemah dan bergeser ke selatan, mengancam monsun yang jadi tumpuan pertanian jutaan orang di Afrika Barat & Asia Selatan.
- Pangan: Luas lahan untuk gandum dan jagung — 40% kalori global — bisa terpangkas lebih dari setengah.
Catatan Ahli: Masih Ada Ketidakpastian
Meski mengkhawatirkan, beberapa pakar mengingatkan ada rentang besar dalam proyeksi AMOC.
María Paz Chidichimo dari CONICET Argentina bilang besaran dan waktu penurunan AMOC “masih belum pasti karena sebaran model sangat besar”.
Laura Jackson dari Met Office Inggris menambahkan: masih jadi pertanyaan terbuka model AMOC mana yang paling mungkin.
Fabien Roquet dari University of Gothenburg juga mencatat tim lain dengan metode serupa tahun lalu justru mendapat kesimpulan berlawanan. “Satu makalah tidak menyelesaikan debat ilmiah,” katanya.
David Thornalley dari UCL menyebut temuan ini “jelas mengkhawatirkan”, tapi ketidakpastian tetap ada karena model sangat bergantung pada variabel yang dimasukkan.
Kenapa Model Baru Ini Dianggap Lebih Akurat
Studi sebelumnya biasanya hanya pakai satu variabel, seperti kekuatan AMOC masa lalu atau suhu musiman.
Studi Portmann dkk pakai banyak pengukuran laut dari berbagai wilayah dan membandingkan beberapa pendekatan statistik.
Hasilnya: koreksi bias salinitas di Atlantik Selatan dan bias suhu dingin di Atlantik Utara — dua faktor kunci stabilitas AMOC.
Dengan koreksi itu, ketidakpastian proyeksi turun dari 37% jadi 8%. Artinya banyak perbedaan antar model sebenarnya bisa dijelaskan pakai data observasi yang sudah ada.
Chidichimo menekankan: “Kita sudah punya cukup bukti ilmiah soal variabilitas dan perlambatan AMOC, dan kita sudah mengalami perubahan lingkungan terkait AMOC yang berdampak sosial-ekonomi. Negara-negara perlu bersiap sekarang.”
