27 Juli 2026

Rupiah Menguat ke Rp17.387 per Dolar, BI Siapkan Tujuh Jurus Stabilisasi

Rupiah Menguat ke Rp17.387 per Dolar, BI Siapkan Tujuh Jurus Stabilisasi

Ilustras: Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar

Tanggerang, 7 Mei 2026 – Nilai tukar rupiah berbalik menguat pada penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data yang diterima, rupiah naik 37 poin atau 0,21% ke level Rp17.387 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp17.424 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Rabu ini juga menguat ke Rp17.405 per dolar AS dari Rp17.425 per dolar AS.

Fundamental Solid Jadi Penopang Penguatan

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menyebut penguatan rupiah ditopang fundamental ekonomi Indonesia yang masih solid.

Kepada Antara, Rabu, 6 Mei 2026, ia mengutip pernyataan Gubernur BI Perry Warjiyo bahwa rupiah saat ini dalam kondisi undervalued dan berpotensi menguat.

Faktor pendukungnya antara lain pertumbuhan ekonomi sekitar 5,61%, inflasi rendah, pertumbuhan kredit, serta cadangan devisa yang kuat.

Menurut Amru, tekanan terhadap rupiah beberapa hari terakhir bersifat sementara.

Pemicunya antara lain tingginya permintaan dolar untuk impor, pembayaran utang, repatriasi dividen, arus modal keluar, serta sikap hati-hati investor.

Dengan demikian, faktor domestik dinilai bukan sumber utama pelemahan, meski tetap memberi tekanan.

Dolar AS Masih Kuat, Harga Minyak Jadi Beban

Penguatan rupiah tetap dibayangi faktor eksternal. Amru menjelaskan dolar AS masih kuat karena suku bunga global yang tinggi, kenaikan yield US Treasury di kisaran 4,47%, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu sentimen risk-off.

Di sisi lain, harga minyak yang tinggi meningkatkan kebutuhan dolar untuk impor. “Kombinasi ini membuat mata uang emerging markets, termasuk rupiah, berada dalam tekanan,” ujarnya.

Tujuh Strategi BI Usai Bertemu Presiden Prabowo

Bank Indonesia menegaskan akan menerapkan tujuh langkah penting untuk menstabilkan rupiah.

Hal itu disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam jumpa pers selepas rapat terbatas Presiden Prabowo Subianto bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/5) malam.

“Kami melaporkan kepada Bapak Presiden dan Bapak Presiden merestui dan kemudian memberikan penguatan-penguatan tujuh langkah penting yang ditempuh Bank Indonesia untuk membuat rupiah kuat, membuat rupiah itu stabil ke depan,” kata Perry.

Pertama, BI terus memperkuat intervensi di pasar valuta asing, baik dalam negeri maupun luar negeri. Perry menegaskan cadangan devisa lebih dari cukup untuk stabilisasi.

Kedua, penguatan arus modal lewat Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). BI bersepakat SRBI dibuat perlu inflow sehingga bisa mencukupi outflow SBN dan saham. Koordinasi dengan Menteri Keuangan memastikan inflow portofolio asing secara year-to-date masih terjadi dan memperkuat rupiah.

Ketiga, koordinasi fiskal-moneter dengan membeli SBN dari pasar sekunder. BI sudah membeli SBN dari pasar sekunder year-to-date sebesar Rp123,1 triliun dan akan terus berkoordinasi, termasuk opsi buyback oleh Kementerian Keuangan.

Keempat, menjaga likuiditas perbankan dan pasar uang tetap longgar. Perry menyebut pertumbuhan uang primer selalu double digit, terakhir 14,1%.

Kelima, pembatasan pembelian dolar AS di pasar domestik. Batas pembelian dolar tanpa underlying diturunkan dari 100.000 dolar AS menjadi 50.000 dolar AS per orang per bulan. BI menyiapkan penurunan lanjutan menjadi 25.000 dolar AS. “Pembelian dolar sampai dengan atau di atas 25.000 itu harus pakai underlying,” kata Perry.

Keenam, penguatan intervensi di pasar offshore. BI membolehkan bank domestik ikut jualan offshore NDF di luar negeri agar pasokan valas lebih banyak.

Ketujuh, peningkatan pengawasan terhadap aktivitas perbankan dan korporasi. BI berkoordinasi dengan OJK dan mengirim pengawas ke bank serta korporasi dengan aktivitas pembelian dolar tinggi untuk memastikan stabilitas sistem keuangan.