27 Juli 2026

Mendagri Kunjungi Desa Adat Di Nusa Tenggara Timur

Mendagri Kunjungi Desa Adat Di Nusa Tenggara Timur

Mendagri Kunjungi Desa Adat Di Nusa Tenggara Timur

Jakarta, Mahkota-News – Mendagri Tito Apresiasi Pelestarian Desa Adat Matabesi, Dorong Jadi Destinasi Wisata Budaya.

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian mengapresiasi pelestarian adat dan budaya di Desa Adat Matabesi, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Apresiasi tersebut disampaikan Tito ketika mengunjungi Desa Adat Matabesi, Minggu 28/6/2026.

Menurut Tito, desa itu punya potensi besar untuk dikembangkan sebagai warisan budaya sekaligus destinasi wisata.

Tito mengatakan, Desa Adat Matabesi mengingatkannya pada Wae Rebo, salah satu desa adat di NTT yang dikenal sebagai destinasi wisata budaya.

Meski begitu, Matabesi memiliki kekhasan tersendiri, mulai dari rumah adat yang sudah bertahan ratusan tahun sampai lingkungan yang masih asri dengan pepohonan berusia tua.

Baca Juga: Prabowo dan Macron Sepaham Soal Urgensi Stabilitas Timur Tengah

“Kali ini saya lihat ada sesuatu yang lain di sini. Jadi mirip-mirip dengan Wae Rebo, tetapi punya kekhasan sendiri, sejarah sendiri. Kalau di sana harus jalan dua jam katanya. Di sini naik mobil langsung sampai. Artinya, akses untuk turis lebih mudah,” ujar Tito dalam keterangan tertulis, Minggu.

Dia menilai sejarah Desa Adat Matabesi akan semakin menarik kalau terus digali dan didokumentasikan.

Dengan begitu, keberadaan desa adat itu bisa jadi warisan bagi generasi mendatang untuk memahami sejarah, adat, dan budaya yang sudah hidup selama ratusan tahun.

Tito juga mengapresiasi komitmen Pemerintah Kabupaten Belu dalam menjaga dan melestarikan Desa Adat Matabesi.

“Saya berterima kasih, apresiasi saya kepada Pak Bupati Belu yang melestarikan tempat ini. Terima kasih, Pak. Hanya yang punya passion yang mau begini,” katanya.

Baca Juga: Jepang Bentuk Biro Intelijen Nasional Pertama, Picu Pro-Kontra Soal Privasi

Saat kunjungan itu, Tito juga meninjau Museum Fohorai yang sedang dibangun di Desa Adat Matabesi.

Menurutnya, museum tersebut akan semakin menarik bila dilengkapi berbagai koleksi yang menggambarkan kehidupan masyarakat adat.

Koleksi itu, kata Tito, tidak hanya terbatas pada tenun, tetapi juga bisa mencakup tradisi, pertanian, peternakan, sampai proses pengolahan kemiri yang jadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

Ia menambahkan, pelestarian budaya di Desa Adat Matabesi tidak lepas dari peran para tetua adat dan masyarakat yang terus menjaga nilai-nilai warisan leluhur di tengah arus modernisasi.

“Saya memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada tetua-tetua adat yang ada di sini dan masyarakat adat.

Di tengah kehidupan modern, kita tidak harus sepenuhnya berganti dengan yang modern. Kita bisa mempertahankan banyak filosofi masa lalu,” ucap Tito.

Dia lalu membandingkan kondisi itu dengan pengalamannya saat berkunjung ke Hawaii.

Baca Juga: Tunggakan AS Jadi Pemicu Utama Potensi Kolaps Agustus 2026

Menurut Tito, sejumlah kawasan yang dulu punya desa adat kini sudah mengalami modernisasi besar-besaran.

Akibatnya, jejak budaya asli di kawasan itu lebih banyak ditampilkan sebagai pertunjukan di hotel, bukan lagi jadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Desa-desa adat pun menghilang dan berganti jadi kawasan dengan gedung-gedung bertingkat.

Berkaca dari pengalaman tersebut, Tito mengingatkan agar modernisasi tidak menghilangkan akar budaya masyarakat.

“Kita tetap melakukan modernisasi di titik tertentu, tapi di bagian tertentu harus kita jaga seperti ini. Supaya menjadi salah satu objek wisata dan monumen bersejarah yang akan berguna untuk anak cucu kita. Biar mereka tahu di mana grass root-nya,” tuturnya.

Dalam kunjungan tersebut, hadir Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Bupati Belu Willybrodus Lay, Ketua Umum Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga sekaligus Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional Tri Tito Karnavian.

Selain mereka, hadir pula pengurus TP PKK Provinsi NTT dan Kabupaten Belu, para kepala suku, serta masyarakat adat Matabesi.

Baca Juga: Jingle “MBG Mas Bahlil Ganteng” Viral, Partisipasi Gen Z di Ruang Digital