6 Juni 2026

Depresi Postpartum pada Ayah: Studi Kasus dari China yang Jadi Perhatian

Depresi Postpartum pada Ayah: Studi Kasus dari China yang Jadi Perhatian

Foto: rsppnb.ihc.id

Tanggerang, mahkota-news.com – Depresi postpartum selama ini dikenal sebagai gangguan mental yang dialami ibu setelah melahirkan.

Namun, kasus terbaru dari China menunjukkan bahwa ayah juga rentan mengalami kondisi serupa, terutama saat mengambil peran sebagai pengasuh utama bayi.

Kisah seorang ayah asal Provinsi Sichuan ini menjadi sorotan nasional dan internasional karena perjuangannya menghadapi depresi postpartum setelah berhenti bekerja demi mengasuh putrinya, Jasmine.

Baca Juga: Proto-Elamite dari Iran: “Naskah Ketiga” yang Bisa Mengubah Sejarah Tulisan Dunia

Kisah Ayah Jasmine: Dari Manajer Penjualan ke Ayah Rumah Tangga Penuh Waktu

Pria berusia 33 tahun ini sebelumnya bekerja sebagai manajer penjualan makanan hewan peliharaan dengan penghasilan sekitar 20.000 yuan (sekitar Rp45 juta) per bulan.

Setelah kelahiran Jasmine pada Mei 2023, dan karena keterbatasan anggaran untuk menyewa pengasuh serta kedua orang tua yang bekerja di luar kota.

Ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan menjadi ayah rumah tangga penuh waktu.

Rutinitasnya dimulai pukul 6 pagi dengan menangani tangisan Jasmine, menyiapkan susu formula, mengganti popok, hingga bermain berjam-jam sebelum membawa bayi ke taman.

Baru sekitar pukul 5 sore, saat Jasmine tidur siang, ia memiliki waktu untuk memasak dan membuat video yang kemudian diunggah ke media sosial, menarik lebih dari 11.000 pengikut.

Depresi Postpartum pada Ayah: Fakta dan Gejala

Depresi postpartum tidak hanya dialami ibu. Studi yang diterbitkan di jurnal General Psychiatry menyebutkan bahwa sekitar 16 persen pria di China mengalami gejala depresi postpartum setelah kelahiran anak.

Gejala yang muncul meliputi kelelahan kronis, rasa tidak berdaya, mudah marah, hingga kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai.

Ayah Jasmine mengungkapkan perasaannya dalam video: meski merasa sedikit bahagia sebagai ayah penuh waktu, ia kewalahan dengan tekanan dari keluarga dan masyarakat.

Ia bahkan menyebut hidupnya terasa “sia-sia” dan mengalami radang sendi akibat sering menggendong bayi. Kondisi ini akhirnya memicu depresi postpartum yang tidak disadarinya sejak awal.

Baca Juga: Kereta Api Eropa: Jalur dan Strategi Eropa dalam Mencapai Target Iklim Global

Dampak Sosial dan Keluarga

Kisah ini berakhir tragis dengan perceraian antara ayah dan ibu Jasmine.

Tekanan sosial, kurangnya dukungan, dan beban ekonomi menjadi faktor yang memperparah kondisi mental sang ayah.

Ia kini hanya mendapatkan penghasilan sekitar 4.000 yuan (Rp9 juta) dari berjualan produk bayi melalui siaran langsung.

Data Survei dan Grafik Prevalensi Depresi Postpartum pada Pria

Psikiater Dr. Li Wei dari Beijing Mental Health Center menjelaskan, “Depresi postpartum pada pria sering kali tidak terdiagnosis karena stigma sosial dan kurangnya pemahaman. Pria yang mengambil peran pengasuh utama berisiko tinggi mengalami stres berat yang dapat berujung pada depresi.”

Dr. Li menambahkan, “Dukungan keluarga dan lingkungan sangat penting untuk mencegah dan mengatasi depresi postpartum pada ayah. Intervensi psikososial dan edukasi harus diberikan tidak hanya kepada ibu, tetapi juga ayah.”

Berikut data prevalensi depresi postpartum pada pria di China menurut studi General Psychiatry dan survei terkait:

Kelompok Pria Prevalensi Depresi Postpartum (%)
Pria yang menjadi ayah rumah tangga 16
Pria dengan pekerjaan penuh waktu 5

(Sumber: General Psychiatry, 2025)

Baca Juga: Mikrodermabrasi: Risiko dan Keuntungan Perawatan Dermatologi

Kesimpulan

Kasus ayah di China yang mengalami depresi postpartum setelah berhenti kerja demi mengasuh bayi menegaskan bahwa gangguan mental pascapersalinan tidak hanya dialami ibu, tetapi juga ayah.

Tekanan sosial, beban ekonomi, dan kurangnya dukungan menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi mental.

Penting bagi keluarga dan tenaga kesehatan untuk meningkatkan kesadaran dan dukungan bagi ayah baru agar kesehatan mental mereka terjaga, sehingga peran pengasuhan dapat dijalankan dengan optimal tanpa mengorbankan kesejahteraan psikologis.

Baca Juga: Riset Antara Mainan Berbahaya dan Peningkatan Risiko Autisme