6 Juni 2026

Contek Nankang: HIMKI Yakin Indonesia Bisa Jadi Kiblat Furnitur Dunia

Contek Nankang: HIMKI Yakin Indonesia Bisa Jadi Kiblat Furnitur Dunia

Sumber Foto: Lalamove

Jakarta, mahkota-news.com – Pengusaha mebel menilai Indonesia memegang kartu as untuk menjadi pusat furnitur dunia.

Kekayaan kayu, budaya yang beragam, tradisi kerajinan turun-temurun, plus pasar domestik 280 juta jiwa memberi modal yang tidak banyak negara punya.

Namun modal saja tidak cukup. Indonesia perlu meniru China yang menang bukan karena upah murah, melainkan karena membangun ekosistem industri yang saling mengunci.

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur memperoleh pelajaran itu saat menghadiri Annual General Meeting World Furniture Confederation (WFC) 2026 di Nankang, Jiangxi, China.

Forum mempertemukan pemain furnitur lintas benua, dan Sobur pulang dengan satu kesimpulan tajam.

Baca Juga: China Masuk RI: Pabrik EV dan Data Center Segera Dibangun

“Persaingan global hari ini bukan lagi antar perusahaan. Bahkan bukan lagi antar negara semata. Persaingan global kini adalah antar ekosistem industri,” ujar Sobur lewat keterangan pers, Jumat (29/5/2026).

Nankang memberi bukti. Dulu kota ini nyaris tak dikenal, kini ribuan perusahaan berjejal dalam satu ekosistem terpadu.

Pemasok bahan baku duduk bersebelahan dengan produsen mesin, perusahaan logistik, studio desain, politeknik vokasi, lembaga pembiayaan, platform dagang digital, dan kantor pemerintah daerah. Semua bergerak ke arah yang sama.

Sobur menegaskan, kekuatan Nankang bukan jumlah penduduk.

“Kekuatan sesungguhnya terletak pada kemampuan membangun ekosistem yang membuat seluruh pelaku industri bergerak lebih efisien, lebih produktif, dan lebih kompetitif,” paparnya.

Pelajaran itu, kata Sobur, sangat relevan untuk Indonesia. Selama ini pelaku pasar masih sering memandang mebel dan kerajinan sebagai industri tradisional, padahal karakternya strategis.

Baca Juga: Emina Water Gel Moisturizer: Pelembap Ringan untuk Kulit

“Selama puluhan tahun, sektor mebel dan kerajinan sering dipandang sebagai industri tradisional. Padahal jika dilihat lebih dalam, sektor ini memiliki karakter yang sangat strategis bagi masa depan Indonesia,” tukas dia.

Mengapa strategis? Pertama, nilai tambah. Indonesia tidak lagi mengekspor log mentah, melainkan kursi dengan desain, lampu dengan cerita, dan meja dengan finishing kelas hotel.

Kedua, padat karya. Rantai nilai merangkul petani hutan rakyat, perajin rotan di Cirebon, operator CNC di Jepara, desainer muda di Bandung, hingga tim logistik dan marketer digital.

“Seluruh rantai nilai tersebut menciptakan lapangan kerja yang tersebar luas di berbagai daerah di Indonesia,” lanjutnya.

Ketiga, efek ganda. Mebel menghidupkan kehutanan lestari, perkebunan, industri cat, perdagangan, pariwisata, sampai ekonomi kreatif. Keempat, identitas.

Baca Juga: Pushback Pesawat: Proses dalam Operasional Penerbangan

Ketika hotel di Dubai memakai kursi rotan Lombok atau restoran di Tokyo memajang lampu bambu Bali, yang tampil bukan sekadar produk.

“Yang hadir adalah identitas bangsa. Produk furnitur dan kerajinan membawa cerita tentang bahan baku Indonesia, keterampilan masyarakat Indonesia, budaya Indonesia, dan kemampuan industri Indonesia,” kata Sobur.

Sobur menyebut Indonesia sudah mengantongi modal: sumber daya alam melimpah, budaya beragam, tradisi kerajinan kuat, pasar domestik besar, dan lokasi strategis di jalur perdagangan Asia. Yang belum solid adalah ekosistemnya.

Dunia usaha tidak bisa jalan sendiri. Pemerintah tidak bisa mengatur sendiri. Kampus, lembaga riset, perbankan, asosiasi, dan marketplace harus mendorong ke arah yang sama.

Sobur mengingatkan, negara-negara yang berhasil tidak lahir dari satu insentif atau satu raksasa industri.

Mereka menang karena konsisten membangun ekosistem bertahun-tahun persis seperti yang Nankang lakukan.

Jika Indonesia meniru resep itu, Sobur optimistis, label “Made in Indonesia” di ruang tamu dunia bukan lagi mimpi, melainkan target yang bisa kita rebut dalam satu dekade ke depan.

Baca Juga: Transformasi Penerbangan: Sejarah dan Teknologi Pesawat dari Balon hingga Jet