28 Mei 2026

Ketahanan Pangan di Indonesia: Strategi Menghadapi Ancaman Global

Ketahanan Pangan di Indonesia: Strategi Menghadapi Ancaman Global

Foto: Sumber Ruang meNYALA

Jakarta, 30 Mei 2025 – Indonesia sebagai negara dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa menghadapi tantangan besar dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Ancaman bencana global seperti perang nuklir, pandemi ekstrem, atau perubahan iklim yang semakin parah dapat memicu skenario musim dingin nuklir yang berpotensi menyebabkan krisis pangan.

Dalam konteks ini, penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal PLOS One pada Mei 2025 memberikan gambaran tanaman apa yang paling efektif untuk ditanam di perkotaan dan sekitarnya guna menopang kebutuhan pangan masyarakat, terutama di kota-kota menengah.

Baca Juga: Forza Horizon 6 Bocor di Steam, Ini Respons Playground Games

Penelitian tersebut mengidentifikasi bayam, bit gula, gandum, dan wortel sebagai tanaman unggulan yang dapat tumbuh di daerah perkotaan dan pinggiran kota dalam skenario bencana global.

Studi ini bertujuan menemukan tanaman yang paling efisien dalam memenuhi kebutuhan kalori dan protein dengan penggunaan lahan yang minimal.

Matt Boyd, penulis utama studi dan pendiri Adapt Research, menyatakan bahwa meskipun penelitian ini tidak secara langsung terinspirasi oleh situasi geopolitik saat ini, hasilnya sangat relevan dengan kondisi global yang penuh ketidakpastian, termasuk konflik di berbagai belahan dunia dan dampak perubahan iklim.

Indonesia sendiri tengah menghadapi tantangan ketahanan pangan yang kompleks. Pemerintah telah menetapkan ketahanan pangan sebagai prioritas utama dengan mengalokasikan anggaran Rp139,4 triliun pada tahun 2025 untuk meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ekonomi pedesaan, dan mengurangi ketergantungan impor, terutama komoditas seperti gandum, gula, dan kedelai yang sangat dibutuhkan dalam negeri.

Baca Juga: Buruh Indomaret Demo di PIK, Tolak Penggantian Upah Lembur

Dalam studi tersebut, dua skenario dianalisis: kondisi iklim normal dan musim dingin. Untuk kota beriklim sedang dalam kondisi normal, kacang polong menjadi tanaman paling efisien karena kandungan proteinnya tinggi dan kemampuannya tumbuh baik di lahan perkotaan.

Namun, kacang polong tidak tahan suhu beku. Dalam skenario musim dingin, bayam dan bit gula menjadi pilihan yang lebih tahan banting terhadap suhu rendah dan minim cahaya.

Kondisi ini mengingatkan pada tantangan yang dihadapi oleh kota-kota di Indonesia seperti Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya yang memiliki kepadatan penduduk tinggi dan keterbatasan ruang terbuka hijau.

Pengembangan pertanian perkotaan dengan memanfaatkan pekarangan, taman kota, dan lahan kosong menjadi salah satu solusi untuk memperkuat ketahanan pangan lokal, sebagaimana telah dipraktikkan dalam program Urban Farming di beberapa kota besar.

Studi menggunakan Palmerston North di Selandia Baru sebagai contoh kota menengah dengan populasi sekitar 90.000 jiwa.

Baca Juga: 4 Tewas, 19 Luka dalam Tabrakan Bus Halmahera dan Pikap L300 di Tol Medan-Tebing Tinggi

Dengan menggunakan citra satelit, para peneliti menghitung ruang hijau yang tersedia untuk pertanian perkotaan dan menemukan bahwa lahan dalam batas kota hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan sekitar 20% penduduk dalam kondisi normal dan turun menjadi 16% dalam kondisi musim dingin nuklir.

Di Indonesia, hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mengembangkan pertanian peri-urban dan memperluas lahan pertanian produktif di sekitar kota.

Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Pertanian telah mengintensifkan program perluasan lahan sawah dan peningkatan produktivitas pertanian dengan dukungan irigasi dan teknologi modern.

Target swasembada pangan pada 2025 juga menjadi fokus utama, termasuk pengembangan varietas unggul dan pemberdayaan petani muda.

Theresa Nogeire-McRae, ahli ekologi lanskap di American Farmland Trust, menilai bahwa masih banyak lahan pertanian yang dapat dimanfaatkan di dalam dan sekitar kota Slandia Baru.

“Orang-orang menetap di kota-kota di mana mereka melakukannya untuk alasan yang baik, tanah di dekat sungai biasanya subur dan sangat berharga” katanya.

Hal ini relevan dengan kondisi Indonesia yang memiliki banyak wilayah subur di sepanjang aliran sungai besar seperti Bengawan Solo dan Citarum.

Baca Juga: Singapura Berlakukan Cambuk untuk Siswa Laki-laki Pelaku Bullying