28 Mei 2026

 Rupiah Tembus Melemah Penyebab Tak Sesederhana “Salah BI”

 Rupiah Tembus Melemah Penyebab Tak Sesederhana “Salah BI”

Foto: Generated AI

Jakarta, mahkota-news.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS baru-baru ini menyentuh Rp17.500, level terlemah dalam sejarah.

Meski angkanya mirip dengan krisis 1998, analis menekankan kondisi saat ini belum separah saat itu karena pelemahan terjadi bertahap, bukan anjlok 600% dalam waktu singkat seperti 26 tahun lalu.

Namun narasi yang beredar di media sosial dinilai terlalu menyederhanakan masalah.

“Menyebut pelemahan rupiah hanya urusan Bank Indonesia atau sekadar ‘menguntungkan eksportir’ itu tidak lengkap bahkan menyesatkan,” jelas Ferry Irwandi dalam pembahasan” Mengapa Rupiah Terus Melemah?”.

Tiga Lapis Penyebab Rupiah Tertekan

Untuk memahami pelemahan rupiah secara utuh, penyebabnya dibagi dalam tiga lapisan:

Lapisan Penjelasan
Eksternal Dolar AS menguat karena konflik geopolitik di Timur Tengah, suku bunga AS tinggi, dan investor global cari aset aman. Alhasil, modal keluar dari negara berkembang termasuk Indonesia.
Domestik Belanja pemerintah melonjak dan subsidi energi membengkak, mendorong naiknya kebutuhan dolar.
Kepercayaan Pasar meragukan disiplin fiskal dan kredibilitas kebijakan. Saat kepercayaan turun, investor cabut dana, rupiah makin tertekan.

“Tidak ada faktor tunggal. Semua saling terkait: moneter, fiskal, fundamental ekonomi, sampai persepsi pasar,” tegasnya.

Faktor Domestik: Belanja Negara Naik, Subsidi Energi Meledak

Data kuartal I 2024 menunjukkan pendapatan negara naik 10,5% jadi Rp574,9 triliun.

Tapi pengeluaran pemerintah melonjak lebih kencang: naik 31,4% menjadi Rp815 triliun. Dari jumlah itu, Rp610 triliun adalah belanja pemerintah pusat.

Pos paling menonjol adalah subsidi energi yang meroket 266% ke Rp118 triliun, setara hampir 30% APBN.

Meski defisit fiskal tercatat Rp240 triliun atau 0,95% dari PDB, angka itu saja belum cukup menjelaskan tekanan ke rupiah.

Masalah lain: impor tumbuh jauh lebih cepat dari ekspor. Q1 2024, ekspor hanya naik 0,34%, sementara impor melesat 10,05%.

Ketimpangan ini meningkatkan permintaan dolar dan membebani rupiah, meski neraca dagang masih surplus.

Kritik: Stop Bandingkan dengan AS atau Singapura

Ferry Irwand juga mengkritik cara pemerintah mengkomunikasikan capaian ekonomi.

Pertumbuhan 5,61% sering dibanggakan dan dibandingkan dengan AS, Singapura, atau Korea yang tumbuh 2% atau kurang.

“Perbandingan itu menyesatkan. Ekonomi maju wajar tumbuh kecil karena basisnya sudah besar. Yang sebanding itu Turki, Vietnam yang tumbuh 7% dengan belanja negara di bawah 5%, atau Taiwan yang tumbuh 13% didorong ekspor,” ujarnya.

Komunikasi yang tidak transparan justru merusak kepercayaan pasar.

4 Solusi yang Diusulkan

Untuk meredam tekanan ke rupiah, ada empat langkah yang direkomendasikan:

  1. Perbaiki Komunikasi Pemerintah: Sampaikan data jujur, kontekstual, dan hindari perbandingan yang tidak relevan agar kredibilitas terjaga.
  2. Reformasi APBN: Rasionalkan belanja, pangkas pengeluaran tidak efisien terutama pengadaan dan subsidi, agar ruang fiskal lebih sehat.
  3. Perkuat Retensi Rupiah: Beri insentif agar investor dan bisnis simpan kekayaan di dalam negeri, bukan lewat paksaan. Kelola devisa ekspor lebih strategis.
  4. Koordinasi BI-OJK-Kemenkeu: Selaraskan kebijakan soal obligasi, suku bunga, subsidi, dan regulasi. Sinergi yang solid bisa menahan arus modal keluar tanpa merusak ekonomi.

“Intinya, valuasi rupiah bukan salah satu lembaga. Ini kerja kolektif. Tanpa koordinasi dan kepercayaan pasar, intervensi saja tidak cukup,” tutupnya.

Total jumlah devisa yang dibutuhkan pasar, beban subsidi, dan sentimen global jadi kombinasi yang menekan rupiah saat ini. Solusinya tidak instan, tapi dimulai dari transparansi dan disiplin fiskal.