Timur Tengah Hadapi ‘Paradoks Safe Haven’ di Tengah Krisis
Sumber Ilustrasi Foto: ajaib.co.id
Tanggerang, mahkota-news.com – Gejolak geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar keuangan global.
Alih-alih langsung melesat, harga emas justru memperlihatkan pola yang tidak biasa — sempat terkoreksi sebelum stabil di level tinggi.
Fenomena ini memunculkan istilah “safe haven conundrum” atau paradoks aset aman, di mana peran tradisional emas sebagai pelindung nilai diuji oleh dinamika pasar modern.
Respons Pasar yang Tak Lagi Klasik
Secara historis, emas selalu diburu saat perang atau krisis pecah. Namun kali ini, saat tensi Timur Tengah memanas, harga emas dunia sempat melemah tajam.
Data terbaru mencatat harga emas sempat turun ke sekitar US$4.350 per ons troi dan emas domestik menyentuh Rp2,8 juta – Rp3 juta per gram.
Investor global justru melepas emas di awal krisis untuk mengamankan likuiditas tunai, lalu kembali masuk setelah situasi lebih jelas.
Pendiri Tradepedia Avramis Despotis menilai pergerakan emas kini tidak hanya dipicu berita perang.
“Permintaan safe haven tidak selalu muncul secara instan atau bergerak lurus. Dalam jangka pendek, emas bahkan bisa bergerak seperti aset berisiko sebelum kembali ke fungsi defensifnya,” ujarnya.
Penopang Kuat: Bank Sentral dan Ketidakpastian Global
Meski volatil, fondasi permintaan emas tetap solid. Bank sentral berbagai negara masif menambah cadangan emas untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Ketidakpastian geopolitik dan ancaman perlambatan ekonomi membuat emas kembali jadi alat lindung nilai utama terhadap gejolak pasar dan depresiasi mata uang.
Analis Dupoin Futures Andy Nugraha menyebut ketegangan di Timur Tengah tetap jadi motor penguatan emas.
Dengan gangguan pengiriman minyak di Selat Hormuz yang mendorong WTI naik 30% ke US$113 per barel, emas diperdagangkan di kisaran US$5.090 dan berpeluang uji resistance US$5.245.
Hambatan Suku Bunga Tinggi
Kenaikan emas tertahan oleh kebijakan moneter ketat. Suku bunga tinggi The Fed membuat obligasi dan deposito lebih menarik dibanding emas yang tidak memberi bunga.
Penguatan Indeks Dolar AS ke 99,11, tertinggi tiga bulan, juga menekan harga emas.
Hubungan terbalik antara suku bunga dan emas masih berlaku. Saat The Fed menaikkan suku bunga, dolar menguat dan daya tarik emas menurun.
Namun, pasar kini menanti sinyal pelonggaran. Jika The Fed mulai pangkas suku bunga, biaya peluang memegang emas turun dan harga berpeluang naik signifikan.
Proyeksi: Volatilitas Tinggi Menanti
Analis memperkirakan volatilitas emas tetap tinggi. Jika konflik Timur Tengah memburuk, harga bisa kembali menguji US$4.900 dan membuka jalan ke rekor baru.
Sebaliknya, jika tensi mereda dan The Fed tetap agresif, emas berpotensi konsolidasi.
Prediksi XAUUSD secara rasional menargetkan rentang US$5.000 hingga US$6.000 pada akhir 2026, didorong ketidakpastian geopolitik dan inflasi struktural.
Di tengah pasar ekstrem, stabilitas platform trading jadi sorotan. Gangguan kecil dalam eksekusi dapat berdampak besar pada profit dan kerugian investor saat emas bergejolak cepat.
