6 Juni 2026

Terjerat Aliran Wellness, Bintang Game of Thrones Hannah Murray Alami Gangguan Psikotik

Terjerat Aliran Wellness, Bintang Game of Thrones Hannah Murray Alami Gangguan Psikotik

Hannah Murray di Game of Thrones Foto: (dok. HBO via IMDb)

Jakarta, mahkota-news.com — Hannah Murray, pemeran Gilly di Game of Thrones, mengungkap dirinya mengalami gangguan psikotik setelah bergabung dengan sebuah aliran wellness pada 2017.

Pengalaman itu ia ceritakan menjelang perilisan memoar The Make-Believe: A Memoir of Magic and Madness yang dijadwalkan terbit Juni 2026.

Murray mengaku awalnya tidak menyangka bisa mengalami hal tersebut.

“Mudah untuk berkata, ‘Yah, itu tidak akan pernah terjadi padaku,’ tetapi kita merugikan diri sendiri ketika mulai mengatakan itu, karena kita tidak tahu,” kata Hannah Murray seperti diberitakan Page Six pada Minggu (24/5).

“tidak menyangka akan mengalami hal-hal yang ada dalam buku itu,” lanjutnya.

Meski berlatar belakang terdidik dan sadar dengan tindakannya, Murray menyebut dirinya tetap terjebak.

“Saya kira saya tidak akan bisa, bahwa saya aman. Saya berpendidikan tinggi, berasal dari keluarga kelas menengah; semuanya seharusnya baik-baik saja,” kata Hannah Murray.

“Saya berpikir, ‘Saya pintar. Saya membuat pilihan yang baik.’ Ternyata, saya membuat pilihan yang buruk. Tetapi penting untuk memahami mengapa orang melakukan hal-hal ini, daripada berpikir, ‘Oh, mereka pasti idiot.’ Atau, ‘Seberapa bodohnya kamu?'” lanjutnya.

Baca Juga:  Don Omar Gelar ‘The Last King World Tour’ 2026

Awal Mula Terlibat

Murray mengenal aliran tersebut dari seorang “penyembuh energi” yang ditemui lewat pelatih pribadinya saat syuting film Detroit.

Saat bergabung, ia merasakan suasana emosional dan psikologis yang sangat intens.

“Pengalaman saya sendiri terasa sangat erotis, tanpa ada kejadian fisik eksplisit apa pun. Hanya ada semacam energi yang terasa di ruangan itu. Saya rasa hal itu sering terjadi di organisasi spiritual yang hierarkis,” kenang Hannah Murray.

“Saya merasa menarik bahwa tempat itu pada dasarnya didominasi perempuan, para guru, penyembuh, lalu seorang pria masuk dan dia sangat percaya diri dan karismatik,” kata Murray.

“Hal pertama yang dia katakan adalah lelucon tentang seks. Dari energi yang cukup melayang, lembut, dan ragu-ragu itu, tiba-tiba berubah menjadi, ‘Hei, aku di sini,’ dan, ‘Ayo bercinta.’ Kurasa dia melakukannya dengan sengaja.”

Murray mengatakan telah menghabiskan ribuan dolar untuk mengejar “kebijaksanaan dan keistimewaan,” namun akhirnya dirawat di unit psikiatri setelah mengalami episode psikotik.

Ia kemudian didiagnosis gangguan bipolar dan memutuskan menjauhi industri kesehatan serta kebugaran.

Baca Juga: Karpet Merah Cannes 2026: Qi Wei & Sejumlah Artis China Ditegur Petugas

Refleksi tentang Wellness

Setelah pulih, Murray menyadari betapa praktik wellness yang tampak positif bisa sangat menggoda, terutama saat seseorang rapuh dan mencari solusi instan.

“Tapi sekarang saya menyadari betapa meluasnya hal itu. Betapa seringnya orang yang tidak kau kenal menawarkannya sebagai obat,” kata Hannah Murray.

“Anda berkata, ‘Saya tidak benar-benar bisa tidur’ lalu mereka bilang, ‘Apakah kau sudah mencoba meditasi?’. Itu ada di mana-mana, dianggap sebagai solusi yang pada dasarnya positif,” kata Hannah Murray.

“Dan ada versi yang tidak berbahaya atau positif. Tetapi sebagai seseorang yang mencari sesuatu untuk memperbaiki saya sepenuhnya, tongkat ajaib atau solusi mujarab, janji itu terasa menggoda dan membuat ketagihan,” lanjutnya.

Buku The Make-Believe disebut Murray sebagai “spiritual awakening that turned into a mental breakdown”.

Baca Juga: Dari Suara Putri Disney ke CEO JJ Group, Ara Grace Masuk 30 Under 30 Campaign Asia