28 Mei 2026

Selenium: Peran dalam Ilmu Kimia dan Kesehatan Modern

Selenium: Peran dalam Ilmu Kimia dan Kesehatan Modern

Selenium: Peran dalam Ilmu Kimia dan Kesehatan Modern

Jakarta, 14 Juni 2025 – Selenium adalah unsur kimia dengan lambang Se dan nomor atom 34, yang termasuk ke dalam golongan nonlogam atau metaloid dengan sifat perantara antara belerang dan telurium.

Unsur ini ditemukan pada tahun 1817 oleh Jöns J. Berzelius di Swedia, yang menyadari kemiripan selenium dengan telurium, unsur yang sebelumnya dinamai berdasarkan Bumi.

Nama selenium sendiri berasal dari bahasa Yunani sel yang berarti “bulan”, sebagai kontras dengan telurium yang berarti “bumi”.

Selenium jarang ditemukan dalam bentuk unsur murni di kerak bumi, melainkan biasanya hadir sebagai bagian dari bijih logam sulfida, di mana ia menggantikan belerang sebagian.

Dalam produksi industri, selenium biasanya diperoleh sebagai produk sampingan dari pemurnian bijih tersebut.

Sifat Fisik dan Kimia Selenium

Selenium memiliki beberapa alotrop yang dapat berubah bentuk tergantung suhu dan kondisi pemanasan.

Bentuk amorf selenium biasanya berwarna merah bata, sedangkan bentuk hitamnya menyerupai kaca dan dijual dalam bentuk manik-manik.

Selenium hitam memiliki struktur kristal kompleks yang terdiri dari rantai polimer heliks, berbeda dengan alotrop merah yang memiliki struktur cincin siklooktaselenium (Se₈).

Bentuk paling stabil dan padat dari selenium adalah alotrop abu-abu yang memiliki struktur kristal heksagonal dan bersifat semikonduktor dengan fotokonduktivitas tinggi.

Berbeda dengan alotrop lain, selenium abu-abu tidak larut dalam karbon disulfida dan tahan terhadap oksidasi serta asam nonoksidator.

Isotop Selenium dan Keberadaannya

Selenium memiliki tujuh isotop alami, lima di antaranya stabil, dengan ^80Se sebagai isotop paling melimpah.

Selain itu, terdapat isotop radioaktif seperti ^79Se yang memiliki waktu paruh ratusan ribu tahun dan isotop sintetis dengan waktu paruh bervariasi.

Isotop-isotop ini memainkan peran penting dalam studi nuklir dan aplikasi industri.

Reaksi Kimia dan Senyawa Selenium

Selenium membentuk berbagai senyawa penting, terutama dalam keadaan oksidasi −2, +2, +4, dan +6.

Dua oksida utama selenium adalah selenium dioksida (SeO₂) dan selenium trioksida (SeO₃).

Selenium dioksida dapat larut dalam air membentuk asam selenit (H₂SeO₃), sedangkan selenium trioksida tidak stabil dan mudah terurai menjadi selenium dioksida dan oksigen pada suhu di atas 185 °C.

Selenium juga bereaksi dengan berbagai unsur lain membentuk senyawa seperti selenium disulfida (SeS₂) yang digunakan dalam sampo antiketombe, serta senyawa organoselenium yang memiliki struktur mirip dengan senyawa belerang.

Senyawa-senyawa ini memiliki aplikasi luas dalam kimia organik dan industri.

Aplikasi Teknologi dan Industri Selenium

Selenium memiliki peran penting dalam industri kaca dan pigmen, serta digunakan sebagai semikonduktor dalam fotosel.

Meskipun penggunaannya dalam elektronik telah banyak digantikan oleh silikon, selenium masih digunakan dalam pelindung lonjakan daya dan quantum dot fluoresen.

Penemuan sifat fotokonduktivitas selenium pada abad ke-19 membuka jalan bagi pengembangan perangkat sensor cahaya dan penyearah listrik.

Pada awal 1930-an, penyearah selenium menggantikan penyearah tembaga oksida dan digunakan secara luas hingga digantikan oleh teknologi silikon pada 1970-an.

Peran Biologis dan Risiko Kesehatan Selenium

Selenium dalam jumlah kecil diperlukan untuk fungsi seluler pada banyak organisme, termasuk manusia.

Unsur ini merupakan komponen enzim antioksidan seperti glutationa peroksidase dan tioredoksin reduktase, yang melindungi sel dari kerusakan oksidatif.

Selenium juga penting dalam enzim deiodinase yang mengatur hormon tiroid.

Namun, selenium dalam dosis tinggi bersifat toksik dan dapat menyebabkan selenosis, kondisi keracunan yang berbahaya.

Oleh karena itu, selenium sering ditambahkan dalam multivitamin dan suplemen makanan dengan dosis terkontrol.

Reaksi dan Perkembangan Terkini (2020-2025)

Dalam lima tahun terakhir, penelitian mengenai selenium terus berkembang, terutama dalam bidang biokimia dan teknologi material.

Peningkatan riset tentang aplikasi selenium dalam kesehatan, seperti perannya dalam pengobatan kanker dan perlindungan sel.

Selain itu, pengembangan material semikonduktor berbasis selenium menjadi fokus dalam teknologi elektronik dan energi terbarukan.

Peningkatan kesadaran akan risiko toksisitas selenium juga mendorong regulasi ketat dalam penggunaan selenium di industri dan suplemen makanan.

Pemerintah dan lembaga kesehatan di Indonesia aktif mengedukasi masyarakat mengenai manfaat dan bahaya selenium untuk menjaga keseimbangan konsumsi.

Kesimpulan

Selenium adalah unsur kimia yang memiliki peran penting dalam berbagai bidang, mulai dari industri kaca dan elektronik hingga biologi dan kesehatan manusia.

Dengan sifat fisik dan kimia yang unik, selenium terus menjadi fokus penelitian ilmiah dan pengembangan teknologi.

Perkembangan riset dari tahun 2020 hingga 2025 menunjukkan kemajuan signifikan dalam pemahaman dan aplikasi selenium, yang berdampak positif bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat.