Kisah Asy Sya’bi, Ulama Tabiin yang Diburu Dua Raja
Ilustrasi: Kisah Perjalanan Asy Sya’bi
Jakarta, 2 Juni 2025 — Di tengah era globalisasi dan tantangan zaman, kisah-kisah ulama klasik kembali menjadi inspirasi dalam membangun karakter bangsa.
Salah satu kisah yang menarik perhatian adalah perjalanan hidup Asy Sya’bi, seorang ulama besar dari generasi tabiin yang pernah menjadi rebutan dua raja besar: Khalifah Malik bin Marwan dari Bani Umayyah dan Kaisar Romawi.
Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa keilmuan dan integritas seorang ulama mampu menembus batas-batas politik dan budaya.
Profil Singkat Asy Sya’bi
Asy Sya’bi, yang bernama lengkap Amir bin Syurahabil Huimairi, lahir di Kufah dan dikenal sebagai salah satu ulama tabiin paling berpengaruh pada masanya.
Ia memiliki kecerdasan luar biasa, hafalan kuat, analisis tajam, serta kemampuan memahami berbagai disiplin ilmu.
Menurut catatan sejarah, Asy Sya’bi menjadi rujukan utama dalam bidang ilmu pengetahuan dan hukum Islam di era transisi antara generasi sahabat dan tabiin.
Misi Diplomasi ke Romawi
Kisah ini dinukil dari buku “Jejak Para Tabiin” karya Dr. Abdurrahman Ra’fat al-Basya. Pada suatu waktu, Khalifah Malik bin Marwan mengutus Asy Sya’bi untuk menjalankan misi diplomatik ke Romawi.
Tugas ini bukan sekadar perwakilan politik, melainkan juga sebagai duta intelektual umat Islam.
Ketika bertemu Kaisar Romawi, Asy Sya’bi mampu menjelaskan maksud kedatangannya dengan retorika yang memukau dan wawasan yang luas.
Kaisar Romawi sangat kagum dan bahkan meminta Asy Sya’bi untuk tinggal lebih lama di istana, sebuah kehormatan yang tidak pernah diberikan kepada pejabat asing manapun.
Namun, Asy Sya’bi menolak tawaran tersebut dengan sopan, menyatakan bahwa ia hanyalah bagian dari kaum Muslimin, bukan keturunan raja.
Sebelum pulang ke Damaskus, Kaisar Romawi menitipkan surat khusus untuk disampaikan kepada Khalifah Malik bin Marwan.
Isi Surat Rahasia Kaisar Romawi
Setibanya di Damaskus, Asy Sya’bi menyerahkan surat dari Kaisar kepada khalifah. Rasa penasaran membuat Khalifah Malik bin Marwan segera membuka surat tersebut.
Dalam suratnya, Kaisar menulis, “Saya heran bangsa Arab mau mengangkat raja selain orang ini (Asy Sya’bi).”
Pernyataan ini menunjukkan betapa tingginya penghargaan Kaisar terhadap keilmuan dan kepribadian Asy Sya’bi.
Khalifah kemudian memanggil Asy Sya’bi dan bertanya, “Tahukah kamu isi surat ini?” Asy Sya’bi menjawab, “Tidak wahai Khalifah.”
Khalifah menafsirkan surat itu sebagai bentuk kecemburuan Kaisar karena tidak memiliki penasihat sehebat Asy Sya’bi.
Ketika kabar ini sampai ke telinga Kaisar, ia membenarkan tafsiran Khalifah.
Relevansi di Era Modern
Kisah Asy Sya’bi menjadi cerminan pentingnya peran ulama dalam diplomasi, ilmu pengetahuan, dan menjaga integritas bangsa.
Data Kementerian Agama RI tahun 2025 menunjukkan, 88% masyarakat Indonesia masih menaruh kepercayaan tinggi pada ulama sebagai sumber rujukan moral dan sosial.
Sementara survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada Maret 2025 menyebutkan, 79% responden menginginkan peran ulama lebih aktif dalam diplomasi budaya dan perdamaian internasional.
Kisah ini juga menjadi pelajaran penting bahwa keilmuan dan integritas adalah modal utama dalam membangun kepercayaan lintas bangsa.
Di tengah tantangan radikalisme dan disinformasi digital, Indonesia membutuhkan figur ulama yang mampu menjadi jembatan antara peradaban, seperti Asy Sya’bi.
Hadits dan Nilai Keteladanan
Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari manusia, tetapi mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga, apabila tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat pemimpin yang bodoh; mereka ditanya, lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.”
Hadits ini menegaskan pentingnya menjaga dan menghormati ulama sebagai penjaga ilmu dan moral bangsa.
Kisah Asy Sya’bi yang menjadi rebutan dua raja adalah bukti nyata bahwa keilmuan, integritas, dan keteladanan seorang ulama mampu menginspirasi lintas bangsa dan budaya.
Di era modern, teladan Asy Sya’bi sangat relevan untuk membangun Indonesia yang berilmu, berakhlak, dan berwibawa di mata dunia.
