6 Juni 2026

Otak dan Jantung Saat Kurban: Apa yang Peneliti Hannover Rekam dengan EEG

Otak dan Jantung Saat Kurban: Apa yang Peneliti Hannover Rekam dengan EEG

Foto: iStock

Jakarta, mahkota-news.com – Saat Idul Adha, umat Islam menyembelih kambing, domba, atau sapi sebagai ibadah kurban.

Pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah teknik sembelih syar’i benar-benar meminimalkan rasa sakit?

Para peneliti Jerman mencoba menjawab dengan alat ukur, bukan asumsi.

Profesor Wilhelm Schulze, direktur School of Veterinary Medicine Hannover, bersama Dr. Hazim dan Dr. Gross menanamkan elektroda langsung di permukaan otak 17 domba dan 15 anak sapi beberapa minggu sebelum percobaan.

Tim kemudian merekam aktivitas otak dengan EEG dan detak jantung dengan EKG pada tahun 1978.

Mereka menguji dua cara. Pertama, tim melakukan sembelihan ritual: jagal memotong cepat trakea, esofagus, vena jugularis, dan arteri karotis dengan pisau tajam tanpa pemingsanan.

Baca Juga: Bisnis Halal di Tengah Sistem Kapitalis: Riba, Korupsi, dan Jalan Keluar Syariah

Kedua, tim menggunakan captive bolt pistol untuk memingsankan hewan lebih dulu, lalu memotong.

Hasil rekaman menunjukkan pola yang berbeda. Pada sembelihan ritual, EEG tidak menampilkan perubahan signifikan pada detik-detik pertama.

Schulze menafsirkan sayatan awal sebagai sensasi sentuh, bukan nyeri tajam.

Tiga detik berikutnya, otak memasuki kondisi mirip tidur dalam karena darah mengucur deras.

Pada domba, EEG mencapai garis nol dalam 4 sampai 6 detik. Pada anak sapi, EEG mencapai garis nol dalam sekitar 10 detik.

Karena otak kehilangan aktivitas kortikal secepat itu, tim menyimpulkan hewan tidak sempat memproses nyeri.

Sementara otak meredup, jantung justru terus memompa kuat dan tubuh mengejang refleks.

Baca Juga: Diskusi Eskatologi Islam-Kristen: Tanda Akhir Zaman hingga Teknologi Modern

Pompa aktif ini mendorong darah keluar secara maksimal, sehingga tim menilai daging menjadi lebih bersih.

Pada pemingsanan captive bolt, EEG langsung melonjak drastis saat baut menghantam tengkorak.

Tim membaca lonjakan itu sebagai respons nyeri atau syok sensorik berat, walau hewan tampak pingsan.

EKG juga mencatat jantung berhenti lebih cepat dibanding kelompok sembelih ritual.

Karena jantung berhenti prematur, darah lebih banyak tertahan di pembuluh.

Schulze merangkum temuannya: “The slaughter in the form of a ritual cut is, if carried out properly, painless in sheep and calves according to EEG recordings and the missing defensive actions.”

Islam memang memerintahkan umat berbuat ihsan kepada semua makhluk, termasuk hewan kurban.

Syariat mewajibkan jagal mengasah pisau setajam mungkin, menyembunyikan proses dari hewan lain, dan membaca basmalah sebelum memotong.

Dari Syadad bin Aus RA, Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah memerintahkan agar berbuat ihsan (baik) terhadap segala sesuatu. Jika kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian hendak menyembelih (hewan), maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian menajamkan pisau kalian untuk meringankan beban hewan yang akan disembelih.” (HR Muslim no 1955).

Baca Juga: Misteri Jembatan Nganjuran: Pohon Keramat, Tumbal Belanda, dan Kutukan Rel Mati Yogya-Magelang

Catatan Penting

Studi Schulze sering dikutip dalam debat halal, bahkan Mahkamah Konstitusi Jerman merujuknya pada putusan 2002.

Namun Universitas Kedokteran Hewan Hannover sendiri menyatakan bahwa penelitian 1978 mencerminkan teknologi dan pemahaman saat itu.

Konsensus kedokteran hewan modern dan studi EEG yang lebih baru umumnya menilai bahwa garis nol EEG tahun 1978 tidak otomatis berarti hilang total sensasi, dan banyak lembaga veteriner kini lebih menganjurkan pemingsanan yang tepat.