6 Juni 2026

APEC Suzhou Jadi “Uji Coba” China Tangani Isu Taiwan, KTT Shenzhen November Diprediksi Lebih Rumit

APEC Suzhou Jadi “Uji Coba” China Tangani Isu Taiwan, KTT Shenzhen November Diprediksi Lebih Rumit

Yang Jen-ni, perwakilan Taiwan menghadiri pertemuan Menteri atas Perdagangan (MRT) APEC China 2026 di Suzhou, Provinsi Jiangsu, China, 22 Mei 2026. REUTERS/Nicoco Chan

Shenzen, 28 Mei 2026 – Pertemuan Menteri Perdagangan APEC yang digelar di Suzhou pekan lalu dianggap sebagai sinyal awal strategi China menghadapi isu paling sensitif sebagai tuan rumah: kehadiran Taiwan.

Meski Beijing sempat mengkritik keras pidato Presiden Taiwan Lai Ching-te pada 20 Mei karena dinilai mendorong “separatisme”, pertemuan di Suzhou 22–23 Mei berlangsung tanpa gesekan terbuka.

Para analis menilai China sengaja meredam isu Taiwan demi menjaga citra sebagai “kekuatan ekonomi yang stabil dan terbuka” di tengah perang tarif dan ketegangan geopolitik global.

Baca Juga: Kuba Perkuat Arsenal UAV dari Rusia-Iran, AS Waspadai Ancaman Baru di Karibia

Beijing Jaga Narasi Multilateral, Hindari Polemik Taiwan

Analis Tang Meng Kit menyebut China memakai APEC untuk memproyeksikan stabilitas dan pragmatisme.

Tema APEC tahun ini — “keterbukaan, inovasi, dan kerja sama” — dibaca sebagai narasi tandingan terhadap kebijakan tarif AS di bawah Presiden Donald Trump.

Menteri Perdagangan China Wang Wentao mengatakan pertemuan Suzhou digelar di tengah “meningkatnya ketegangan geopolitik, unilateralisme, dan proteksionisme”.

Dokumen “Suzhou Statement” yang dihasilkan pun menekankan integrasi ekonomi regional, rantai pasok, perdagangan digital, AI, dan aliran data lintas batas.

“China memposisikan diri sebagai pembela tatanan ekonomi multilateral pada saat Washington dipandang melemahkannya,” kata Tang.

Menurut Chong Ja Ian, profesor NUS, Beijing ingin “menampilkan diri sebagai mitra pilihan, memanfaatkan pendekatan Washington yang tidak dapat diprediksi.”

Baca Juga: SPG1A-V4: Pelontar Granat Kaliber 40 mm Buatan Dalam Negeri 

Taiwan Hadir, Tapi Dengan Syarat Beijing

APEC adalah satu dari sedikit forum di mana Taiwan bisa ikut bersama China, karena keanggotaan berbasis “ekonomi”, bukan negara berdaulat. Sejak 1991, Taiwan hadir sebagai “Taipei Tiongkok”.

Di Suzhou, delegasi Taiwan dipimpin negosiator perdagangan utama Yang Jen-ni, Menteri Tanpa Portofolio dan kepala Kantor Negosiasi Perdagangan.

Ia didampingi Jonathan Sun, Dirjen Organisasi Internasional Kemlu Taiwan. Delegasi mendorong agenda ketahanan rantai pasok, transformasi digital, dan pertumbuhan hijau.

Chong menegaskan, praktik standar APEC memang hanya mengizinkan “pejabat publik senior, bukan pejabat terpilih atau setingkat kabinet” mewakili Taiwan.

“Karena itu Beijing terbuka terhadap partisipasi Taiwan di Suzhou, tapi dengan syaratnya sendiri,” ujarnya.

William Yang, analis International Crisis Group, menambahkan bahwa Beijing menilai level representasi Taiwan di Suzhou masih dalam batas yang dapat diterima.

“China tidak menganggap APEC kali ini sebagai kesempatan tepat untuk mengurangi partisipasi internasional Taiwan,” katanya.

Baca Juga: Obama: Kesepakatan Nuklir Iran 2015 Sukses Tanpa Rudal, Keluarkan 97% Uranium

KTT Shenzhen November Jadi Ujian Sesungguhnya

Meski Suzhou relatif mulus, para pengamat memperingatkan November bisa berbeda. KTT Pemimpin APEC akan digelar di Shenzhen, dan level delegasi akan lebih tinggi.

Beijing masih memandang Taiwan sebagai bagian wilayahnya dan menolak interpretasi Taipei soal “Konsensus 1992”. Saluran resmi kedua pihak putus sejak 2016.

Kemlu China menegaskan partisipasi Taiwan harus sesuai prinsip “satu China”.

“Kita harus mengantisipasi upaya Beijing menggunakan KTT November sebagai kesempatan memberlakukan syarat atau pembatasan terhadap partisipasi Taiwan di masa depan,” kata William Yang.

Wang Huiyao dari Center for China and Globalization menilai China berharap APEC mengirim sinyal stabilitas.

Namun dengan kunjungan Trump dan Putin ke Beijing baru-baru ini, plus konflik tarif yang belum reda, menjaga agar isu Taiwan tidak membayangi KTT Shenzhen akan jadi tantangan diplomatik terbesar China tahun ini.

China jadi tuan rumah APEC untuk ketiga kalinya setelah Shanghai 2001 dan Beijing 2014.

Namun konteks 2026 jauh lebih rumit: perlambatan ekonomi, gangguan rantai pasok, dan rivalitas teknologi AS-China. Suzhou mungkin hanya “pemanasan”. Ujian sesungguhnya ada di Shenzhen.

Baca Juga: Penumpang Kapal MV Hondius Terdampak Hantavirus