Siklon Alfred Membentuk Garis Pantai di Australia Timur
Foto: The Daily Galaxy - Great Discoveryes Channel
Jakarta, mahkota-news.com – Siklon Alfred memberikan dampak signifikan di sepanjang pantai timur Australia dengan mengikis pasir di sejumlah pantai terkenal di wilayah tersebut.
Gelombang besar dan gelombang badai yang dibawa siklon ini membentuk tebing-tebing erosi yang curam, membuka tembok laut yang selama ini tersembunyi, serta membuat masyarakat pesisir bertanya-tanya berapa lama waktu yang dibutuhkan pasir untuk kembali seperti semula.
Baca Juga: Neural Fatigue dan Dampaknya pada Kesehatan Otak di Era Digital
Badai Kuat yang Berlangsung Lama
Menurut laporan Phys.org, siklon Alfred bukanlah badai biasa. Selama hampir dua minggu, badai ini berputar di dekat garis pantai, menghasilkan gelombang yang terus menerus sebelum akhirnya mendarat sebagai siklon Kategori 4 di sekitar Mackay.
Ketika badai tiba, banyak pantai sudah mengalami erosi akibat gelombang kuat yang berlangsung selama beberapa hari sebelumnya.
Siklon ini bergerak ke daratan bertepatan dengan pasang tertinggi tahun ini, menciptakan kombinasi sempurna yang memperparah kerusakan.
Gelombang dan gelombang badai yang kuat mengikis bagian-bagian pantai secara besar-besaran, meninggalkan tebing curam dan bukit pasir yang tidak stabil.
Baca Juga: Forza Horizon 6 Bocor di Steam, Ini Respons Playground Games
Lokasi Kerusakan Terparah
Kerusakan paling parah terjadi di sebelah selatan jalur siklon, terutama di tenggara Queensland dan timur laut New South Wales, dengan rincian sebagai berikut:
- Peregian Beach, dekat Noosa, kehilangan hingga 30 meter lebar pantai, memperlihatkan lapisan pasir yang lebih dalam.
- Di sepanjang Gold Coast, badai membentuk tebing erosi setinggi hingga tiga meter, mengungkapkan tembok laut yang dibangun setelah badai pada tahun 1970-an.
- Gelombang badai mencapai setengah meter di atas garis pasang tertinggi, mengikis bukit pasir depan dan merusak bukit pasir yang lebih jauh ke darat.
Pulau-pulau seperti Bribie, Moreton, dan North Stradbroke berfungsi sebagai pelindung alami bagi Brisbane dari gelombang badai yang lebih kuat, meskipun pantai-pantai di pulau tersebut mengalami kerusakan berat yang melemahkan kemampuan mereka melindungi garis pantai di masa depan.
Kemana Pasir Pergi?
Bagi masyarakat awam, mungkin tampak seperti jutaan ton pasir hilang dalam sekejap.
Namun, sebagian besar pasir terbawa ke lepas pantai dan kini membentuk bar pasir di bawah permukaan laut.
Proses ini merupakan bagian dari siklus alami. Ketika gelombang menjadi lebih kuat, pasir tererosi dari pantai dan diendapkan di luar pantai.
Bar pasir bawah laut ini membantu meredam gelombang lebih jauh dari pantai, mengurangi dampak langsung ke garis pantai.
Seiring waktu, gelombang yang lebih tenang akan mendorong pasir kembali ke pantai, secara perlahan membangun kembali garis pantai.
Namun, pemulihan tidak selalu pasti. Sebagian pasir dapat terbawa ke perairan dalam atau terbawa arus sepanjang Pantai.
Proses pemulihan bisa memakan waktu bertahun-tahun atau bahkan pasir tersebut tidak kembali sama sekali.
Baca Juga: Gen Z Anggap Gamer sebagai Profesi, Orangtua Tetap Ragukan Stabilitasnya
Proses Pemulihan
Pantai memiliki daya tahan yang cukup tinggi dan banyak di antaranya akan mulai pulih secara alami dalam beberapa bulan.
Namun, bukit pasir memerlukan waktu lebih lama untuk pulih. Tanpa intervensi, dibutuhkan waktu bertahun-tahun agar vegetasi tumbuh kembali dan menstabilkan pasir.
Alam akan mengelola sebagian besar proses pemulihan, tetapi beberapa pantai mungkin memerlukan bantuan manusia.
Otoritas terkait dapat mempercepat pemulihan dengan menambah pasir baru ke area yang terkikis (beach nourishment).
Strategi lain termasuk pembangunan tembok laut atau revetmen, meskipun cara ini terkadang memperparah erosi di area sekitar.
Para ahli menekankan pentingnya menjaga bukit pasir dengan cara menghindari aktivitas yang merusak, membatasi lalu lintas kaki, dan membiarkan vegetasi tumbuh kembali untuk menstabilkan pasir.
Baca Juga: 4 Tewas, 19 Luka dalam Tabrakan Bus Halmahera dan Pikap L300 di Tol Medan-Tebing Tinggi
