28 Mei 2026

NASA Temukan Perubahan Vegetasi sebagai Indikator Letusan Gunung Api

NASA Temukan Perubahan Vegetasi sebagai Indikator Letusan Gunung Api

Ilustrasi Gunung Berapi

Jakarta, 29 Mei 2025 — NASA berhasil mengembangkan metode inovatif untuk mendeteksi aktivitas gunung api sebelum meletus dengan mengamati perubahan vegetasi di sekitar gunung menggunakan citra satelit.

Pendekatan ini memanfaatkan pengamatan daun pohon yang menjadi lebih hijau dan subur sebagai tanda awal aktivitas vulkanik.

Menurut laporan ScienceTechDaily, para peneliti NASA bekerja sama dengan Smithsonian Institution menemukan bahwa gas karbon dioksida (CO2) yang dilepaskan magma ke permukaan tanah diserap oleh pepohonan, menyebabkan daun-daun tumbuh lebih sehat dan rimbun.

“Perubahan warna hijau yang semakin pekat pada vegetasi di sekitar gunung api menjadi sinyal awal aktivitas vulkanik yang dapat dipantau melalui satelit,” ujar pihak NASA.

Metode ini menggunakan data dari satelit Landsat 8 dan misi AVUELO untuk memantau respons biologis tersebut dari jarak jauh.

Studi kasus di Gunung Chaiten, Chili Selatan, menunjukkan bahwa sebelum letusan pada tahun 2000, hutan di sekitar gunung tersebut tampak lebih hijau, menandakan peningkatan aktivitas magma di bawah tanah.

Ahli vulkanologi menjelaskan bahwa emisi karbon dioksida muncul lebih awal dibandingkan sulfur dioksida, yang selama ini lebih mudah dideteksi dari orbit satelit.

Namun, karena CO2 juga banyak terdapat secara alami di atmosfer, para ilmuwan memasang alat pengukur di kanopi hutan dekat gunung aktif Rincon de la Vieja, Kosta Rika, untuk membedakan sumber gas tersebut.

Penelitian ini melibatkan kolaborasi lintas disiplin antara ahli vulkanologi, klimatologi, dan botani. Mereka sepakat bahwa pemantauan vegetasi dapat menjadi lapisan tambahan dalam sistem peringatan dini letusan gunung api, yang sangat penting mengingat sekitar 10 persen populasi dunia tinggal di wilayah rawan vulkanik.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan, “Peringatan dini dari berbagai metode pemantauan sangat penting untuk menyelamatkan nyawa masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api.”

Contoh keberhasilan sistem pemantauan gas terlihat pada Gunung Mayon, Filipina, tahun 2018, di mana evakuasi massal berhasil dilakukan berkat deteksi dini, menyelamatkan lebih dari 56.000 jiwa.

Meski menjanjikan, metode ini memiliki keterbatasan, terutama pada gunung api yang tidak dikelilingi oleh vegetasi cukup atau yang berada di daerah dengan cuaca buruk, kebakaran hutan, dan gangguan hama yang dapat memengaruhi hasil pemantauan.

Kementerian Riset dan Teknologi Indonesia menegaskan pentingnya pengembangan teknologi satelit dan alat pengukur untuk mendukung mitigasi bencana vulkanik di tanah air.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga mendukung pemantauan vegetasi sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana alam.

Kepala KLHK menyatakan, “Pemantauan kondisi hutan dan vegetasi sangat penting dalam memprediksi aktivitas gunung berapi.”