28 Mei 2026

Gen Z Anggap Gamer sebagai Profesi, Orangtua Tetap Ragukan Stabilitasnya

Gen Z Anggap Gamer sebagai Profesi, Orangtua Tetap Ragukan Stabilitasnya

Survei Logitech tentang karier di dunia e-sports.(Logitech)

Jakarta, mahkota-news.com –Bermain game kini bergeser dari sekadar hiburan menjadi opsi karier serius bagi banyak anak muda, terutama Generasi Z.

Survei global Logitech G PRO Series Survey 2026 mengungkap 54% responden dunia menganggap game profesional sebagai jalur karier yang sah.

Angka dukungan melonjak pada Gen Z 67% dan Milenial 60%, sementara Baby Boomers hanya 37%.

Studi ini melibatkan 18.000 responden di 12 negara: AS, Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, Polandia, Swiss, Swedia, Brasil, Korea Selatan, China, dan Australia.

Indonesia tidak termasuk, namun temuan mencerminkan tren global perubahan pandangan kerja di era digital.

Baca Juga: Jurnalistik dan Generasi Z: Mengapa Minat Semakin Berkurang?

Mengapa Anak Muda Melihat E-sports sebagai Masa Depan

Industri e-sports tumbuh pesat: turnamen berhadiah miliaran rupiah, sponsor besar, dan atlet game diperlakukan layaknya atlet profesional.

Fenomena ini membuat anak muda memandang game sebagai peluang karier digital, bukan cuma hiburan.

“Riset ini menunjukkan seberapa jauh e-sports dan gaming berkembang, bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga jalur nyata menuju kesuksesan pribadi dan profesional,” kata Derek Perez, Global Communications Gaming Lead Logitech G.

Meski begitu, dukungan perusahaan teknologi dinilai penting agar generasi muda bisa membangun karier.

“Semakin banyak perusahaan seperti Logitech mendukung atlet dan industri e-sports secara keseluruhan, maka semakin besar pula peluang bagi masyarakat di seluruh dunia untuk meniti karier di bidang e-sports,” tambah Derek.

Orangtua Khawatir Risiko Finansial dan Prestise Rendah

Di mata generasi lebih tua, profesi gamer profesional belum bergengsi.

Tenaga kesehatan jadi profesi paling terhormat 55%, disusul pengacara 33%, guru/dosen 30%, teknisi 28%.

Gamer profesional hanya 8%. Hanya 1% Baby Boomers dan 3% Gen X yang mau mendorong anaknya jadi gamer profesional.

Milenial pun hati-hati: cuma 4% merekomendasikannya.

Kekhawatiran utama: 42% responden menilai karier gamer berisiko keuangan tinggi.

Lalu 34% menyebut industri terlalu kompetitif, 31% menyebut kurang dukungan orangtua/masyarakat.

Sepertiga responden juga menilai profesi ini tidak menawarkan jaminan jangka panjang.

Sebanyak 42% bahkan menganggap gamer bukan pekerjaan “nyata” karena masih identik dengan hobi.

Baca Juga: Riset Sel Punca FKUI: Harapan Baru Pulihkan Otot Jantung Pasca Serangan

Tuntutan Fisik dan Mental Layaknya Atlet

Survei menunjukkan 84% responden menilai e-sports menuntut mental kuat, sementara 55% setuju ini juga profesi yang menuntut fisik.

Sekitar 27% memperkirakan atlet e-sports berlatih 10-12 jam per hari, melebihi jam kantor biasa.

Karena itu, muncul dorongan pendidikan formal: 47% setuju sekolah menghadirkan kelas e-sports berdampingan olahraga tradisional.

Dukungan tinggi di China 77% dan Swiss 73%, meski Inggris, Prancis, Jerman lebih hati-hati.

Secara global 65% mendukung jalur pendidikan formal e-sports lewat universitas, perguruan tinggi, atau kursus khusus.

Apa yang Bisa Membuat Gamer Lebih Diterima

Responden menyebut liputan media lebih luas, fasilitas pelatihan profesional, transparansi pendapatan atlet, dan masuknya e-sports ke Olimpiade sebagai faktor yang dapat mengubah pandangan publik.

Perez menegaskan akses ke pelatihan, fasilitas, dan teknologi berperan besar bagi pertumbuhan karier e-sports.

Baca Juga: Riset Antara Mainan Berbahaya dan Peningkatan Risiko Autisme