28 Mei 2026

Riset Sel Punca FKUI: Harapan Baru Pulihkan Otot Jantung Pasca Serangan

Riset Sel Punca FKUI: Harapan Baru Pulihkan Otot Jantung Pasca Serangan

Foto: cdn.kibrispdr.org

Jakarta, mahkota-news.com – Penyakit jantung koroner masih jadi penyebab kematian nomor satu di Indonesia.

Penanganan utama saat serangan jantung akut adalah intervensi koroner perkutan — yang umum dikenal sebagai pemasangan ring atau stent.

Prosedur ini efektif membuka pembuluh darah yang tersumbat dan menyelamatkan nyawa pada fase kritis.

Masalah yang Muncul Setelah Pemasangan Ring

Meski aliran darah sudah dibuka, banyak pasien masih menghadapi masalah lanjutan.

Otot jantung yang sempat kekurangan oksigen kadang sudah telanjur rusak permanen.

Kerusakan ini menurunkan kemampuan jantung memompa darah dan bisa berkembang menjadi gagal jantung.

Untuk mengatasi hal itu, kini dikembangkan terapi tambahan menggunakan sel punca mesenkimal.

Harapannya, terapi ini bisa memperbaiki jaringan otot jantung yang rusak sebagai pendamping tindakan medis standar.

Penjelasan dari Peneliti FKUI

Gagasan ini disampaikan Dr. dr. Dede Moeswir, Sp.PD-KKV, saat sidang promosi doktor di Fakultas Kedokteran UI, Rabu 13/5/2026.

Penelitiannya berfokus pada pasien infark miokard akut dengan elevasi segmen ST atau IMA STE yang sudah dipasangi ring.

“Tindakan membuka kembali aliran darah memang jadi terapi utama untuk menyelamatkan pasien serangan jantung.

Namun, sebagian pasien tetap berisiko mengalami kerusakan otot jantung akibat cedera reperfusi, peradangan, hingga gagal jantung meski sudah ditangani optimal,” jelas dr. Dede.

Cara Kerja Sel Punca Mesenkimal

Sel punca mesenkimal dipilih karena fleksibel. Sebagai sel induk, ia bisa berdiferensiasi menjadi sel spesifik, termasuk sel otot jantung.

“Dengan pemberian terapi sel punca mesenkimal, diharapkan kerusakan otot jantung dapat dikurangi sehingga fungsi pompa jantung pasien membaik,” tambah dr. Dede.

Dr. Dede menegaskan terapi ini bukan solusi instan. Berdasarkan hasil risetnya, pembentukan sel otot jantung baru dari sel punca melibatkan proses biologis kompleks yang butuh waktu lama.

Karena itu, perbaikan optimal belum terlihat segera setelah penyuntikan. Perlu studi lanjutan dengan pemantauan pasien lebih panjang untuk menilai efektivitas menyeluruh.

Meski begitu, riset ini dinilai jadi modal penting bagi sains dan klinis di Indonesia, terutama untuk menekan kecacatan jangka panjang pada penyintas serangan jantung.

“Kami berharap terapi ini dapat membantu mengurangi ukuran kerusakan otot jantung dan memperbaiki fungsi pompa jantung pasien di masa depan,” tutup dr. Dede.